Sentuh Aku, Om Dokter!
"Tapi buburnya enak, ’kan, Sayang?"
"Enak." Aku mengangguk kecil. "Terima kasih ya, Om. Maaf juga jadi merepotkan."
"Nggak repot kok," sahutnya santai. "Lagian bubur ini ’kan Om pesen dari ojol."
"Tetap saja, Om. Kan Om yang menyuapiku."
Dia terkekeh kecil, lalu mengusap bibirku dengan tisu, gerakannya lembut dan penuh perhatian.