Ifat
“Maksud Mas, kopi hitam ya? Original? Mau Robusta? Atau Arabika? Kopi Gayo Aceh? Kintamani Bali? Kopi Toraja? Flores Bajawa? Arabika Temanggung? Kopi Wamena?”
Wow, wow, aku lupa. Ini kafe, bukan warung kopi Bang Fahmi!
Aku tersenyum dan mengangguk-angguk. Semakin banyak pilihan malah semakin membuat aku bingung.
“Mmm, ada tidak, kopi yang bisa juga bermanfaat sebagai obat?”
“Mengobati apa, Mas?”
“Sakit.”
“Mas-nya sakit ya? Sakit apa?”
“Malarindu plus mabuk kepayang.”
Hot Chapters