WITHERED
Muray yang memang mengenalku, tidak senang melihatku menunjukan senyum palsu yang terlalu sering ku tunjukan pada siapa saja, bahkan ibu kosku di rumah.
"So?"
Aku yang siap memotong pancake menatap Muray. "So, what?" tanyaku balik.
Ia memutar bola matanya malas. Meletakan cangkir kopi yang tak jadi ia seruput, "I am talking about our GM."
Aku mengangguk, karena sejak kami belum memulai sarapan Muray begitu antusias membahas tentang Ken.
"Oh, come on, girl. Apa kau tidak merasa antusias sedikitpun bertemu dengan manusia yang bisa bicara bahasamu yang susah dilafalkan itu?"
Hot Chapters