Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Tante, Berhentilah Mengejarku

Tante, Berhentilah Mengejarku

Mereka hampir kehilangan kendali, tapi suara langkah orang lewat di jalan membuat mereka tersentak berhenti. Andre dan Mila tersentak berhenti seketika ketika suara langkah kaki orang lewat di jalan terdengar jelas—sepasang remaja yang berjalan sambil tertawa kecil, suara sepatu mereka menginjak kerikil trotoar seperti pengingat bahwa dunia di luar sana masih ada.
2.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 81 kali sebagai kuantar kau ke gerbang
Baca
+Pustaka
Antara Aku Dan Kamu

Antara Aku Dan Kamu

Tunjuk Gio. Damian pun percaya, dan turun dari mobil karena tidak bisa melewati gang sempit. Sempat terpikir di pikiran Damian, bahwa truk besar tidak bisa masuk ke area ini. Sampailah mereka pada rumah kecil yang sepi, berbeda dengan rumah di sebelah yang masih terdengar cukup suara. Lebih tepatnya, itu suara ketakutan. "Tempat ini sepertinya, sudah didatangi oleh orang lain terlebih dahulu," ucap Damian.
3.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 81 kali sebagai kuantar kau ke gerbang
Baca
+Pustaka
Perjalanan Jati Diri Pendekar Pedang Api

Perjalanan Jati Diri Pendekar Pedang Api

"Kunci segalanya? Kau bicara seolah ada sesuatu yang sangat berbahaya." Karna mengangguk pelan. "Itu memang berbahaya. Gerbang itu adalah tempat di mana kegelapan tertidur... atau mungkin menunggu. Aku tidak tahu apakah yang ada di baliknya akan membawa kehancuran atau harapan, tetapi satu hal yang pasti: kita harus menemukannya terlebih dahulu sebelum jatuh ke tangan yang salah."
103.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 77 kali sebagai kuantar kau ke gerbang
Baca
+Pustaka
Samaran Terakhir

Samaran Terakhir

Ia telah melangkah ke Bab 41, tempat yang bahkan Narator pun tak bisa menjangkau. "Ini... bukan dunia," gumamnya. Di depannya terbentang tiga gerbang. Masing-masing berkilau dengan simbol berbeda: Gerbang pertama bertuliskan: IF (YOU) = TRUE THEN WRITE. Gerbang kedua berisi pantulan dirinya, tetapi dengan wajah Armand. Gerbang ketiga kosong. Hanya tulisan samar: GERBANG PEMBACA. Adrian menoleh ke belakang. Tidak ada jalan kembali.
1.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 45 kali sebagai kuantar kau ke gerbang
Baca
+Pustaka
Kau Duakan Aku, Kubawa Anakmu Pergi

Kau Duakan Aku, Kubawa Anakmu Pergi

kata Aisha lirih. Ucapan itu membuat Aini mengerjapkan matanya, lalu menoleh ke arah Aisha yang sedang duduk menghadap laptop di depan meja kasir. "Aku ngga abai." Aini membela dirinya. "Itu apa namanya? Untung aja itu pintu toko pake pintu kaca yang terus tertutup, coba kalau pakai rolling door dan Adza bebas keluar masuk pasti kamu juga ngga peduli sama anakmu."
1056.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.8K kali sebagai kuantar kau ke gerbang
Baca
+Pustaka
Lembah Kaisar Takdir

Lembah Kaisar Takdir

ujar Armand dengan suara berat, “setiap langkah yang kita ambil hari ini akan menentukan nasib kita semua. Gerbang ini bukan hanya sekadar pintu; ia adalah ujian, dan hanya yang memiliki hati yang murni akan mampu melaluinya.” Suasana berubah seketika ketika salah satu prajurit muda berlari mendekat dengan wajah panik. “Tuan Armand, sekelompok makhluk aneh mendekati dari utara!” teriaknya. Kerumunan itu segera menjadi riuh, tetapi Armand dengan sigap mengangkat tangan, menandakan agar semua tenang. “Tenang. Kita akan hadapi mereka bersama-sama. Gerbang ini adalah tujuan kita, dan tidak ada yang boleh menghalangi jalannya.”
103.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 136 kali sebagai kuantar kau ke gerbang
Baca
+Pustaka
Di Balik Bayangan Makassar: Petualangan Aaron & ILHAM

Di Balik Bayangan Makassar: Petualangan Aaron & ILHAM

** > “Dunia baru telah terbuka… > bukan karena kalian mengetuk. > Tapi karena kalian **tidak menolak masuk.**” Aaron menatap gerbang yang kini tampak di ujung jalan. Bentuknya tidak tetap—kadang seperti lorong air, kadang seperti mata, kadang seperti **kenangan.** Tapi satu hal yang pasti: **ia tidak akan menunggu.** Ilham berjalan perlahan ke samping Aaron. “Gerbang ini bukan panggilan ya?” gumamnya.
102.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 77 kali sebagai kuantar kau ke gerbang
Baca
+Pustaka
Desa Tanpa Suara

Desa Tanpa Suara

“Kau yakin mau pergi? Orang yang melewati gerbang ini… tidak pernah kembali.” Raka menatap jalan berbatu di balik gerbang, datar. “Aku harus melakukannya.” Ratna memegang lengannya lebih erat. “Kalau kau pergi… aku—” “Jaga dirimu,” potong Raka tanpa menoleh. Ia melangkah melewati gerbang, meninggalkan Ratna mematung di kabut. ---
102.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 53 kali sebagai kuantar kau ke gerbang
Baca
+Pustaka
Warisan Terlarang: Kontrak Darah 90 Hari

Warisan Terlarang: Kontrak Darah 90 Hari

Kata-kata itu lebih berat daripada raungan ribuan gerbang. Dari kejauhan, langit bergemuruh lagi. Jakarta seakan menarik napas panjang sebelum menghembuskan badai. Pria tua itu sudah menghilang, tapi kata-katanya membekas: “Gerbang keempat akan memakan siapa kalian sebenarnya.” Kirana menatap Monas, yang kini diam bagai batu nisan. “Kalau gerbang ketiga saja seperti ini… apa yang akan menunggu di gerbang berikutnya?”
101.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 37 kali sebagai kuantar kau ke gerbang
Baca
+Pustaka
Gelang Langit

Gelang Langit

"Gerbang ini bukan sekadar tujuan. Ia adalah ujian. Tidak semua yang datang akan bisa masuk. Hanya mereka yang dikenali oleh perjanjian lama." Ayu menggenggam jari Rakasura, dan untuk sesaat, tidak ada kata-kata. Hanya tekanan halus itu, cukup untuk berkata: aku bersamamu, apapun yang terjadi. Mereka berjalan mendekat. Setiap langkah terasa seperti melintasi satu lembar waktu. Awan di atas bergeser perlahan, membentuk pusaran samar yang tidak mengganggu tapi seolah menyaksikan.
1.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 65 kali sebagai kuantar kau ke gerbang
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
45678
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status