Selir Yang Terlupakan
Aroma yang khas—campuran bau logam senjata yang dingin dan dupa yang tebal—kembali menyelimutiku.
"Lianhua," panggilnya pelan, cukup rendah sehingga hanya aku yang bisa mendengarnya.
Beliau tak menatapku langsung ke mata. Sebaliknya, pandangannya tertuju pada jepit rambut wisteria perak di pelipisku, seolah sedang meneliti kehalusan ukirannya.
"Kamar kerjaku berada di Sayap Utara," lanjutnya. "Jika teh yang kau minum terasa terlalu pahit malam ini, kau boleh datang ke sana untuk mencari sesuatu yang lebih manis."