Cinta Dua Sisi
Aku ingin melarikan diri, jauh dari tekanan perih yang kautabur hingga tanpa kusadari sebuah cahaya menyilaukan mengusik mataku dan sebuah tabrakan tak bisa dihindari.
Masih saja wajahmu membancang gerah, duhai belahan jiwa. Setiap ragaku tak lagi berharga. Setiap doa yang kupanjat seakan sia-sia. Sepertiga malam kuterjaga agar Allah membuka matamu mencintai ananda kita. Namun, apa? Kau sangat pandai bersandiwara. Dita, lirih kusebut namamu sebelum mataku kemudian terpenjam dan kehilangan kesadaran. Kuharap ketika terjaga, aku akan terbangun dari mimpi buruk ini.
Bab Populer