Istri Kontrak Sang Hafidz
*
Aku tulis:
*“Rindu yang dewasa tahu kapan harus menetap, dan kapan harus kembali ke langit. Tidak semua rindu harus bertemu. Tidak semua cinta harus dimiliki. Kadang, cukup tahu bahwa ia pernah ada… dan tetap indah meski tak berlanjut.”
***
Keesokan harinya, aku memutuskan untuk pergi ke taman tempat dulu aku dan Rayyan sering duduk bersama. Tempat yang jadi saksi diamnya rasa, tapi juga saksi ketegaranku yang tumbuh perlahan.
Aku duduk di bangku kayu yang sedikit lapuk, membuka buku catatan kecil, dan menulis satu kalimat:
*“Hari ini aku belajar bahwa tidak semua kehilangan harus diartikan sebagai akhir. Kadang, kehilangan adalah awal dari pertemuan dengan versi diriku yang lebih kuat.”*
Hot Chapters