Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Peri Kecil Tuan Allen

Peri Kecil Tuan Allen

Lucy memegang tangan Ralin sebelum masuk ke kawasan cafe. "Tidak apa, ini darurat, aku mengerti. Lucy, titip Kenra ya!" "Iya, Kau tenang saja!" Ralin masuk ke dalam sedangkan Lucy kembali melajukan mobilnya menuju apartemen. Malam ini ada yang memesan ruang vvip di cafe tersebut, jadi manager cafe memanggil tenaga tambahan salah satunya adalah Ralin. "Aunty, Kenra mengantuk," kata Kenra yang duduk di bangku belakang.
1033.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 943 kali sebagai luc up cafe
Baca
+Pustaka
Suami Wasiat Kakek

Suami Wasiat Kakek

Cafe lencana ungu ini memang tempat favorit bagi Katarina, sampai tempat duduknya berulang kali tetap di sudut pojok. “Kak matchalatte satu,” pesan Katarina pada seorang wanita yang ada di kasir. “Matcha mulu, sesekali beli kopi, Kak!” ujar Elegi pelan. “Aku tidak mengopi, kamu saja yang pesan kopi kaya orang tua saja!” ledek Katarina terkekeh. “Dih, gak gitu juga, Kak. Oiya, mbak aku pesan cappuccino saja satu ya,” pesan Elegi.
108.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 290 kali sebagai luc up cafe
Baca
+Pustaka
Terjerat Panasnya Cinta Mantan Pacar

Terjerat Panasnya Cinta Mantan Pacar

“Pasangan saya katanya suka dengan hidangan penutup di sini. Nanti saya mau coba juga setelah menikmati menu utama.” “Oke, Pak Aryan. Nanti akan kami sajikan matcha cream cheese silky pudding favorit Bu Lucy.” Juan mengatakannya sambil tersenyum pada Lucy yang lantas dibalas perempuan itu sebuah anggukan dan senyuman kikuk. Aryan pun tersenyum tipis melihat interaksi singkat Juan dan Lucy. “Oh, ternyata Lucy sering ke sini, ya, Chef?” Aryan bertanya pada Juan, tapi matanya menatap Lucy. Gara-gara itu, situasi yang tadinya hangat, mendadak berubah.
102.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 90 kali sebagai luc up cafe
Baca
+Pustaka
Bersinar setelah Diselingkuhi

Bersinar setelah Diselingkuhi

Pagi itu, cahaya matahari musim semi menyusup masuk melalui celah jendela apartemen Lucia, menciptakan garis-garis emas di atas meja makan. Lucia duduk dengan tenang, menikmati kepulan uap dari teh hangat di tangannya serta sepotong roti selai cokelat. Di telinganya, ponsel tertempel, menghubungkannya dengan Cedric Vane.
101.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 36 kali sebagai luc up cafe
Baca
+Pustaka
My Blissful Marriage

My Blissful Marriage

Angin siang menerpa wajahnya, tapi kepala Selene dipenuhi kejadian di atas kejadian lainnya yang menimpanya minggu ini. Cafe Arcadia muncul di ujung jalan, sebuah bangunan dua lantai dengan logo emas kecil yang terasa homey, cafe tersebut bernuansa cozy-green, dengan banyak tanaman dan cahaya alami yang membuatnya terasa sangat nyaman.
671 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 23 kali sebagai luc up cafe
Baca
+Pustaka
Jatuh ke Pelukan Panas Tuan CEO

Jatuh ke Pelukan Panas Tuan CEO

Namun, saat Lizbeth kembali, Lucien menolaknya sekali lagi. "Saya mau yang dari kafe di seberang." Kini, Lizbeth tidak bisa menyangkal dirinya sendiri. Pria ini memang sengaja merundungnya. Namun, sebagai pekerja yang baru saja selamat dari risiko pemecatan, Lizbeth melakukan semua perintah Lucien. "Silakan, Pak." Lizbeth meletakkan latte yang ia beli dari kafe depan kantor di meja Lucien. Namun, Lucien hanya melirik. Ia tak menyentuh minumannya.
1074.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.8K kali sebagai luc up cafe
Baca
+Pustaka
Diklaim Oleh Don Mafia

Diklaim Oleh Don Mafia

Dia bekerja dari rumah. Aku memasukkan pin kami dan masuk ke dalam rumah, mengembuskan napas dan melempar sepatuku entah ke mana. "Kalau kau terus melempar barang-barangmu seperti itu, suatu hari nanti kau tidak akan punya apa-apa untuk dipakai," kata Lucy saat dia muncul dengan dua cangkir yang kutebak adalah kopi di tangannya. Aku tersenyum padanya saat dia menyerahkan satu cangkir kopi, "Kau membuat dua cangkir."
169 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 5 kali sebagai luc up cafe
Baca
+Pustaka
Mari kembali ke Masa Lalu

Mari kembali ke Masa Lalu

ucap Rico sambil melirik Arindha yang sedang merapikan rambutnya. Hening Rico asik mengemudikan mobilnya, Arindha hanya diam mengamati beberapa notifikasi di ponselnya yang menyala. “Pernah ke café Loumerous?” tanya Rico memecah suasana. “Belum, tapi sering lewat,” jawab Arindha sambil melihat handphone nya. “Kamu harus coba masakannya, enak bener. Ditambah lagi nih, nuansa café nya bikin nyaman kayak, kamu,” Goda Rico pada Arindha.
2.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 46 kali sebagai luc up cafe
Baca
+Pustaka
Artemis Hunter

Artemis Hunter

Tinggi badannya hanya mencapai bahunya. “Bagaimana pencarianmu?” Luc menarik kursi dari cafe waffle di pinggir jalan untukku. Kami tidak berniat masuk, hanya Luc yang akan ke sana memesankan waffle untuk kami. “Seperti yang kubilang, tidak berjalan begitu baik. Tunggulah!” Luc menghilang ke pintu. Aku tidak tahu dia mendapat uang dari mana untuk membeli waffle itu, tetapi begitulah Luc.
1015.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 600 kali sebagai luc up cafe
Baca
+Pustaka
Senja Kian Memudar

Senja Kian Memudar

Perasaan jarak antara cafe dengan rumah Gita jauh enggak mungkin kan Lutfi juga memata-matai gue. "Hahh....kok lu bisa tahu sih bro? Siapa yang kasih tahu lu bro? Lu lagienggak nyadap cafe gue kan?" tanyaku buat jaga-jaga aja. Terdengar tawa keras dari Lutfi di sebrang sana, "Iya enggak lah bro ngapain gue nyadap cafe lu kagak ada kerjaan banget." ucap Lutfi sambil menahan perutnya biar enggak ketewa keras. "Gue tadi kebetulan lagi makan di cafe lu eh tiba-tiba adek gue malah ke situ. Kalau lu ga percaya liat CCTV aja bro lebih duluan siapa."
103.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 70 kali sebagai luc up cafe
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1234568
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status