Library
Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Memory

Memory

Ada geleyar nyeri menyusup perlahan di aliran darah. "Ada Pak Aksara juga," lanjut Lenni. Aku menarik nafas panjang, meredam rasaku yang entah apa. Kecewa? Sedih? Patah hati? "Tolong, antar lemon tea ini." Lenni menaruh nampan berisi tiga gelas es lemon tea. "Kamu saja, Len," tolakku. Lenni membulatkan matanya. "Sudah sana kamu saja."
108.1K viewsCompletedAdded to Library 193 Times as lying
Read
+Library
LOVE and LIE

LOVE and LIE

lirih pria itu. Tidak ada tanggapan, karena Aara tahu semakin dia bicara semakin deras pula air mata yang akan jatuh. "Sayang." Fawaz menyentuh dagu sang istri, laku menariknya agar tidak menunduk lagi. Hatinya semakin diliputi rasa bersalah melihat wajah dan mata Aara sudah memerah. "Maafkan, Mas. Tadi Mas bingung harus mencerna berita kehamilan kamu, ini ... terlalu mendadak."
1018.9K viewsCompletedAdded to Library 396 Times as lying
Read
+Library
Love

Love

Love you all.... 😍😍😍😍😍 enjoy ya.. 😘😘😘 🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
1015.3K viewsCompletedAdded to Library 305 Times as lying
Read
+Library
Unexpected

Unexpected

Walau area sensitifnya tidak nyeri seperti tadi, tapi ia masih sangat pelan saat berjalan. Helena melihat Diandra tengah menatap nanar layar televisi yang masih menyuguhkan video dijeda tersebut. Ia mengernyit saat melihat ponsel laki-laki yang tadi menyiksanya dan membuatnya seperti sekarang masih tergeletak di atas coffee table. “Gara-gara ini kamu diperlakukan tidak manusiawi olehnya, Len?” tanya Diandra penuh amarah.
9.838.2K viewsCompletedAdded to Library 1.3K Times as lying
Read
+Library
Exit

Exit

Malu rasanya. “Kamu gapapa, Lin?” April menyentuh jidatku dengan punggung tangannya seperti memeriksa suhu tubuh, nada suaranya khawatir. “Eh.” Aku mendongakkan kepala, menatap April bingung. “Kak Olin kayaknya sakit, deh, Kak.” Laura menyahuti, ikut khawatir. “Sakit apa?” “Mungkin Kak Olin pusing karena habis baca buku bahasa Inggris, Kak. Biasanya begitu,” jelas Laura sok tahu—meski sebenarnya memang tadi aku begitu.
102.7K viewsOngoingAdded to Library 62 Times as lying
Read
+Library
U

U

Yuda POV End. ... Perasaan selalu berubah-ubah. Bisa menjadi turun atau naik. Kadang dari cinta jadi benci, benci jadi cinta. Atau bisa juga dari menyukai naik jadi mencintai. ***
103.3K viewsOngoingAdded to Library 103 Times as lying
Read
+Library
Why

Why

Kebohongan Alya "Apa kamu bisa dipercaya?!" "Jika kamu berbohong, kamu akan tahu apa yang kulakukan padamu?!" tanya Jaden mulai menurunkan nada emosinya. "Tentu saja, Tuan. Anda bisa mempercayai saya, karena saya bukan wanita yang suka berbohong," jawab Alya dengan nada meyakinkan. Namun, lain di mulut lain di hati. Alya berbohong di depan Jaden, karena ia tidak mau mati konyol di tangan anak buah Jaden.
1014.7K viewsCompletedAdded to Library 557 Times as lying
Read
+Library
Liara

Liara

Terlebih, ada Hagan yang bersikap seolah sangat menginginkan makhluk itu dibiarkan berkembang dan hidup. Dilema, gamang, kecewa, takut, sejak tadi Liara hanya bolak-balik mengubah posisi berbaring. Tadinya telentang, sekarang tidur dengan sikap miring. Masih tidak nyaman, ia menghadapkan dada ke atas sofa. Namun, segera bangun dan duduk, karena mengingat di perutnya ada sesuatu yang juga hidup. Perempuan dengan terusan hitam selutut itu mendesah lelah di atas sofa. Duduk bersila, menengok layar hitam TV dengan tatapan menerawang.
9.535.0K viewsCompletedAdded to Library 944 Times as lying
Read
+Library
Betrayal

Betrayal

Semoga saja tidak pernah ***. Victor berjalan dengan tenang melewati lobby gedung perusahaannya. Walaupun Victor tidak menunjukkan ekspresi apapun, aura yang melingkupinya tetap hitam. Bahkan, seketika lobby menjadi sunyi begitu Victor memasukinya. Para staf hanya berada menundukkan kepalanya, terlalu segan untuk menyapa Victor. Menurut para karyawan, Victor hanya memiliki tiga ekspresi, yaitu santai, dingin, dan tanpa ekspresi—walaupun tanpa ekspresi harusnya tidak termasuk dalam ekspresi, namun bagi Victor, tanpa ekspresi merupakan sebuah ekspresi. Dari ketiga ekspresi tersebut, yang paling menyeramkan adalah wajah tanpa ekspresinya.
106.3K viewsCompletedAdded to Library 206 Times as lying
Read
+Library
LALI

LALI

Meski sorot mata itu menunjukkan dengan jelas rona kepedihan yang ia simpan. Harusnya hari ini hari bahagia kita, Kang. Kepalanya menunduk. Sanggul di kepalanya semakin berat. Di tambah dengan baju kebaya berwarna putih yang kini melekat di tubuhnya. Air mata itu menetes lagi. Betapa banyak air mata yang telah di keluarkan. “Maafkan saya, Mbak.” Suara Asih mengagetkan ibu muda yang tengah merias.
106.0K viewsOngoingAdded to Library 211 Times as lying
Read
+Library
PREV
12345
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status