JANGAN GANTUNG MUKENAH DI BALIK PINTU
Pelita hanya ada di dapur, di teras, di kamar.
Tek-tok Tek-tok Tek-tok Tek-tok Tek-tok Tek-tok Tek-tok Tek-tok Tek-tok
Suara itu seperti gemerincing kayu yang di kendalikan kuda, semakin lepas, semakin cepat tak terkendali. Jantungku tidak baik-baik saja. Malam panjang itu terlalu mencekam untuk aku lalui seumur-umur hidup. Suara bunyi pintu berhenti. Suara pukulan dinding bergema dari atas lemari kaca. Bang Hasim mengurung niat untuk berbelok ke lorong dapur. Bau khas bangkai menyusup rongga hidung, seketika isi perutku ingin keluar. “Ada bau mayat lagi, Bang.”