Samaran Terakhir
Ia tidak bicara, tapi pikirannya terdengar jelas di dalam kepala Adrian:
"Kita adalah satu, tapi kita tak pernah menulis dengan pena yang sama. Aku memilih takdirku. Kini giliranmu."
Cermin itu mulai retak, seolah tak sanggup menahan tekanan dua narasi yang saling bertabrakan. Di belakangnya, muncul kembali simbol-simbol dari layar sebelumnya kali ini bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk dimasuki.
Adrian berjalan ke arah cermin, dan mendekat.
"Kalau aku masuk… apakah aku masih akan menjadi 'aku'?"