Terpaksa Jual Diri
Pandanganku masih kabur, berat seakan terbebani mimpi buruk.
Di sana, Melisa, tengah berdiri di depan lemari pakaian. Dia dengan cekatan mengambil satu persatu pakaian, melipatnya rapi sebelum memasukkannya ke dalam dua koper besar yang ternganga di depannya.
"Melisa," panggilku, suara serak karena kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Aku bangkit, langkahku berat, menuju ke arahnya. "Kamu ngapain?"