Selir Yang Terlupakan
Ia melangkah lebih dekat, bahunya hampir menyentuh bahuku saat kita berjalan menuju gerbang pasar yang penuh sesak.
"Jadi ya... ini benar-benar pelarian pertamaku dalam belasan tahun terakhir. Jangan sampai kau mengecewakanku, Lianhua."
Aku sungguh tak menyangka akan hal itu. Selama ini aku mengira sejak kecil ia sudah dikelilingi kemewahan dan aturan ketat.
"Baiklah, kalau begitu jangan banyak bicara dulu," kataku sambil mempercepat langkah di depannya. "Mari kita cari sarapan dulu. Perut kenyang bikin pikiran lebih tenang."