Suatu Senja di Tanah Senja
Mardian mengelap sebutir keringat yang membasahi dahinya kemudian mencium aroma di telapak tangannya itu.
“Ini bukan bau keringat, ini bau amis darah.” Dia menjilat tangannya. “Tidak, ini bukan rasa darah, ini rasa air seni.” Mardian meludahkan semulut penuh air liur. “Apakah aku sudah mulai gila? Apakah ini tanda-tanda kegilaan itu?” Mardian mulai panik. “Tidak, tidak. Itu tidak mungkin. Aku tidak mungkin gila, aku tidak merenung, aku mengenang masa laluku. Ya, aku hanya mengenang masa laluku. Aku masih waras. Dua ditambah dua sama dengan empat. Empat dikali empat, enam belas. Otakku masih berfungsi. Aku masih waras. Aku tidak gila. Ya, aku tidak gila. Aku hanya … sedikit ketakutan.” Mardia
Hot Chapters