Saat Mertua Meminta Jatah Warisanku
Astaghfirullah, bagaimana bisa mereka membagi harta warisan tanpa mengingat ayahku yang juga berhak atas rumah tersebut?
Aku sebagai ahli warisnya Ayah masih hidup, lho! Walaupun aku anak perempuan, apakah aku tak berhak sama sekali untuk bagian Ayah? Jahat!
“Ya, sudah, Paklek. Terima kasih infonya,” pungkasku sakit hati.
“Sama-sama. Sudah dulu ya, Fika. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Kumatikan sambungan telepon. Cepat kuseka ujung pelupuk mata yang menitikkan air kesedihan. Percuma aku menangis, orang-orang akan tetap zalim dan mengabaikan keberadaanku.