Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Temen Tapi Demen

Temen Tapi Demen

tidak sesuai blas sama gayanya. "Ehem ... gelangnya baru ya, Mbak?" goda Bu Dina saat menerima uang. Senyumnya juga seakan penuh keingintahuan. "Eh, iya, Bu ... baru. Kembaliannya permen milkita aja," jawab Shasa yang langsung mengambil empat permen dengan dua rasa. "Ya udah. Pulang dulu, makasih, Bu ...." Shasa meninggalkan warung Bu Dina sambil memakan permen milkta rasa strawbery.
108.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 205 kali sebagai mentari senja
Baca
+Pustaka
Antara Fajar dan Senja

Antara Fajar dan Senja

“Hahaha santai aja.” Aldi yang mengantre tepat di depan Dian hanya mampu menyimak percakapan mereka. Saat sedang melihat papan harga menu, Nika kebingungan. ‘Duh aku harus berhemat biar ini duit gak cepet habis.’ batinnya. “Mbak, mau pesan apa?” Tanya pelayan. “Pesen nasi 1 porsi, sama oseng tempe, tahunya 2, sama mie goreng ya mbak.” Jawab Nika.
103.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 76 kali sebagai mentari senja
Baca
+Pustaka
Penawar Nyawa Sang Pangeran Terbuang

Penawar Nyawa Sang Pangeran Terbuang

tegur Raja Alaric dengan nada yang sangat dingin, membuat Ratu Selena langsung membeku dan tidak berani melanjutkan kalimat makiannya. Tidak lama kemudian, Menteri Keuangan bersama kepala penjaga gerbang utama kembali maju ke tengah ruangan dengan wajah yang dipenuhi keringat dingin. Mereka membawa buku besar beserta surat izin jalan kereta dengan stempel Ratu Selena.
10604 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 17 kali sebagai mentari senja
Baca
+Pustaka
Dari Istri Terhina Menjadi Kesayangan Penguasa

Dari Istri Terhina Menjadi Kesayangan Penguasa

ujar Senja. “Gak lihat itu gerbangnya ditutup?” Senja mendengus kasar. Tanpa menunggu lama, ia turun dari motor dan berjalan menuju pos jaga. Di sampingnya ada pintu kecil untuk akses karyawan. “Ada yang bisa dibantu?" tanya security yang berjaga. "Saya mau ketemu Pak Himawan," jawab Senja. "Maaf, apa sudah punya janji?" "Bapak gak kenal saya?" tanya Senja balik. "Saya Senja Arunika. Putri kedua pemilik pabrik ini.”
1012.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 256 kali sebagai mentari senja
Baca
+Pustaka
Dimanja Sang Penguasa

Dimanja Sang Penguasa

tanya Agni saat merasakan pergerakan kaki. "Aku ingin mengembalikan nampan ini ke dapur," jawabnya. "Ah, aku sungguh banyak merepotkanmu." Terlihat senyum getir di ujung bibirnya. "Jangan bicara seperti itu," hibur Reynar. Pria tampan itu kembali duduk dan mencicipi teh hangat buatan Agni. "Hmm ... ini sungguh enak. Wanginya langsung kerasa di hidung," puji Reynar.
102.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 83 kali sebagai mentari senja
Baca
+Pustaka
Rimba Memburu Senala

Rimba Memburu Senala

goda Senala seraya meletakkan satu potongan daging di hadapan si Manis kesayangannya. Lalu Mamak Jambul ikut pula mencomot potongan daging yang diinginkannya. “Ada nasi?” Senala tertawa merasa bersalah sembari menggelengkan kepala. “Takada nasi, daging kelinci bakar pun jadi,” seloroh Mamak Jambul melanjutkan mengunyah potongan daging kelinci bakar itu. Dia mengunyah dengan anggun. Dan Senala pun mau tidak mau mencontoh adab Mamak Jambul kala mengunyah daging kelinci bakar itu. Hanya si Manis yang lahap cenderung rakus ketika mengunyah potongan daging bagiannya.
101.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 35 kali sebagai mentari senja
Baca
+Pustaka
Menantu Kuli

Menantu Kuli

tanya Wastin. “Nyonya Mira sakit. Saya harus pulang sekarang,” Willy menjelaskan singkat. Sano mengangguk. “Hati-hati di jalan. Semoga bukan hal serius.” Wastin tersenyum miring, "Wanita sadis itu selalu saja membebani orang lain." ---
103.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 95 kali sebagai mentari senja
Baca
+Pustaka
Jodoh untuk Senja

Jodoh untuk Senja

kata Nilam. ‘Apa? Tante Mila dirumah, kenapa aku tidak tahu. Ibu bahkan tidak menelpon. Aduh bagaimana nasibku sekarang,’ batin Senja. “Tapi tante, Senja kan tidak bawa baju ganti,” sambil melihat dirinya sendiri yang sedang memakai gaun pesta. Seakan itu akan mengubah pikiran Nilam untuk membiarkannya pulang.
1.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 41 kali sebagai mentari senja
Baca
+Pustaka
MENANTU IMPIAN IBU

MENANTU IMPIAN IBU

“Aku mengabaikanmu hari ini…” Dengan lembut, Dilan menyentuh bibir Dini dengan jarinya, menghentikan kalimat yang belum selesai. “Hush, nggak perlu ngomong gitu. Yuk, makan dulu. Nanti kamu lapar.” Senyum kecil muncul di bibir Dini, ia menunduk malu. Dia kembali melahap suapan dari tangan Dilan, rasa ikan mujair bakar dengan sambal terasi menyentuh lidahnya. Ini adalah makanan favorit Dilan—dengan sambal pedas dan lalapan segar, sesuatu yang tak pernah ia temui di desanya.
2.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 95 kali sebagai mentari senja
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1234567
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status