Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
KESEPIAN ABADI

KESEPIAN ABADI

Iya_Angelya
Suara tangisan itu menyakitkan gendang telingaku, kupejamkan mata dan menutup telingaku erat-erat, samar-samar aku mendengar dia menghentikan tangisannya. Aku mencoba merayap dan meraba dinding kusam itu, mencoba mengintip. Kenapa setiap aku menangis dibalik bilik ini dia selalu mengikutiku? Seolah-olah ingin mengatakan kepadaku, bahwa aku tidak pernah sendirian menangis di bilik ini. Kali ini aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu disebalah bilik yang selalu kujadikan tempat bersembunyi ini. Kreeeekk.... Suara kayu dari pintu yang sudah lapuk itu membuat bulu kudukku meremang. Sosok itu membuat airmataku kering menatapnya, tubuhku kaku seolah-olah darah tidak mengalir ditubuhku,sosok perempuan yang meringkuk itu menghentikan tangisannya, mendongak menatapku, walaupun diam tetapi aku bisa merasakan sesuatu yang menakutkan, seragamnya sangat lusuh, kulit putihnya seperti menahan dingin, mata itu kosong dan terus menatapku, seolah-olah dia tidak menerima kehadiranku didalam bilik kumuh ini.
104.5K viewsOngoingAdded to Library 166 Times as meraba
Read
+Library
Obsesi Suci

Obsesi Suci

"Paman ... besar sekali, apa semua pria begini ...?" Wajah keponakan istriku merona merah saat aku menyentuhnya. Tangannya yang halus terasa kaku saat meraba alat milikku dari balik celana. Aku menatap tubuhnya yang mulai bereaksi akibat belaianku, lalu sengaja menggodanya, "Bukan hanya begini, pria juga akan memasukkan alat ini ke lubang bawahmu, lho." Selesai berbicara, aku sengaja menyentakkan bagian bawah tubuhku ke telapak tangannya yang lembut. Tak disangka, tangan satunya menyingkap ujung roknya sendiri. Sementara tangan yang lain menarik pakaianku dan menggenggam alat yang sudah menegang keras itu. Sesuatu yang besar dan kokoh itu menekan perut bawahnya. Wajahnya merah padam. Dia memegang alat itu, mengesekkannya perlahan di perut bawahnya, bahkan mungkin mengarah lebih ke bawah lagi ....
85.9K viewsCompletedAdded to Library 3.0K Times as meraba
Read
+Library
Sentuhan Terlarang di Sudut Bus Kota

Sentuhan Terlarang di Sudut Bus Kota

Di atas bus, aku dihimpit ke arah jendela oleh seorang pria hidung belang. Sementara itu, sepasang tangan yang besar di belakangku, meraba-raba tubuhku dengan lancang. Aku terkulai lemas dalam dekapannya. Aku berusaha menahan erangan karena malu, sambil merapatkan kedua kaki dan mencoba mengabaikan sensasi basah di antara pangkal pahaku. Ada dua alasan mengapa aku berusaha keras untuk bertahan. Pertama, tidak ada yang tahu jika aku sebenarnya menderita kecanduan seks. Sentuhan sekecil apa pun bisa seketika menjatuhkanku ke dalam jurang gairah yang dalam. Kedua ... Orang di belakangku yang sedang meraba-raba diriku dengan semena-mena itu adalah guru matematikaku sendiri. Aku menundukkan kepala, berusaha sekuat tenaga untuk menopang kedua kakiku yang sudah kehilangan kekuatannya. Saat aku mulai kembali tersadar, aku mendapati tangan guruku sudah menyelinap ke celah di antara kedua kakiku, meraba ke arah tempat yang sudah basah dan berantakan itu ….
3.9K viewsCompletedAdded to Library 98 Times as meraba
Read
+Library
Trust Issue

Trust Issue

Wenny_WW
Seringkali wanita menjadi korban dalam percintaan, seiring berjalannya waktu percintaan menjadi bahan yang tidak terlalu serius untuk diartikan. "Kapan kamu punya pacar?" "Kalau kamu tidak diam di kota ini sepertinya kamu akan dapat pacar!!" "Jangan terlalu banyak memilih, nanti gak laku-laku loh!! "Kalau merasa wajah pas-pasan tidak usah muluk-muluk masalah pendamping!!" "Jadi wanita itu yang logis saja! Pria juga pasti pilih wanita yang ga banyak minta dan ga ribet!" Itu hanya sebagian pertanyaan atau ungkapan yang tanpa sadar selalu diucapkan oleh sesama wanita. Padahal ungkapan itu hanya dibuat oleh wanita atau orang yang memang hidupnya tidak terlalu baik dalam mempelajari ilmu sosial dan mental orang lain. Selalu merasa benar, tanpa meraba apa yang seharusnya diungkapkan dalam menanggapi kehidupan orang lain. Cerita ini semoga menginspirasi orang-orang yang sering kali mendapat perlakuan atau perkataan yang membuat timbul rasa terpaksa hanya karena anggapan-anggapan yang tidak jelas dari orang yang belum tentu dan bisa untuk melewati setiap kejadian yang membuat traumatis.
102.5K viewsOngoingAdded to Library 89 Times as meraba
Read
+Library
Dari Facebook Jadi Suami Istri

Dari Facebook Jadi Suami Istri

Pagi itu, cahaya matahari menyelinap malu-malu melalui celah gorden kamar Maya. Gadis berusia dua puluh enam tahun itu masih bergelung di balik selimut tebalnya, mengabaikan bunyi alarm yang sudah berteriak tiga kali sejak pukul enam pagi. Maya bukan pemalas, ia hanya lelah setelah lembur menyelesaikan laporan audit perusahaan konstruksi tempatnya bekerja hingga pukul dua dini hari. Namun, ada satu bunyi yang akhirnya berhasil menarik kesadarannya sepenuhnya: bunyi denting notifikasi ponsel yang khas. ​Maya meraba nakas, menemukan benda pipih itu, dan menyipitkan mata melihat layarnya yang terang. Sebuah notifikasi dari aplikasi biru tua—Facebook. ​"Seorang pria bernama Arlan Dirgantara mengirimkan Anda permintaan pertemanan." ​Maya berkerut dahi. Nama itu sama sekali tidak terasa akrab. Ia duduk bersandar pada kepala ranjang, membiarkan rambut panjangnya yang berantakan jatuh ke bahu. Dengan ibu jari, ia mengetuk profil pria tersebut. Foto profilnya memperlihatkan seorang pria yang berdiri di depan sebuah ekskavator besar berwarna kuning mengkilap, mengenakan rompi proyek dan helm keselamatan. Wajahnya tidak terlihat sepenuhnya karena terhalang kacamata hitam, tapi ada aura ketegasan yang terpancar dari postur tubuhnya. ​"Siapa ini? Perasaan aku nggak punya teman kontraktor,"
10136 viewsOngoingAdded to Library 4 Times as meraba
Read
+Library
TOPENG MANIS SANG PEMBUNUH

TOPENG MANIS SANG PEMBUNUH

Langkah Hera terdengar pelan di lorong hotel. Sepatu hak pemberian tamu ke-2 ini terlalu sempit, itu sudah 5 tahun lalu, tapi ia belum mampu mengganti sepatu prada yang seperti itu . Bagi orang lain, gaun merahnya mungkin tampak mewah. Bagi Hera, itu cuma seragam. Topeng. Tangannya menggenggam erat tas kecil Hermes pemberian tamu ke-3. Di dalamnya hanya ada dompet tipis, lipstik murahan, dan kartu mahasiswa yang hampir jatuh tempo. Mahasiswa. Ya, itulah Hera di siang hari. Mahasiswi Sastra tahun akhir. Tapi di malam hari… ia menjual dirinya. Ia tidak pernah menyangka akan sejauh ini. Semua karena satu hal, uang. Adiknya butuh operasi, dan orangtuanya bahkan tak mampu bayar listrik. Hera belajar terlalu dini bahwa cerita di buku-buku tak pernah menyelamatkan orang miskin. Dan malam ini, ia harus menghadapi klien yang berbeda. Klien yang bahkan manajer tempat “kerjanya” tadi berulang-ulang, mengingatkannya, “Jangan macam-macam. Dia bukan orang biasa.” "hmm memangnya tamu seperti apa dia?" Hera menghitung jemarinya "oh, pria ini adalah tamu yang ke-9" Hera menghitung mereka untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tidaklah semurahan itu. Managernya selalu bilang " Jangan banyak pilah pilih, untung cantik kalau tidak mah bisa gawat!" Pintu kamar 1705 terbuka otomatis. Sosok pria duduk di kursi dekat jendela, punggungnya menghadap Hera. Gelas anggur di tangannya berkilau diterpa cahaya lampu kristal. Pria itu bahkan tidak menoleh ketika Hera masuk. “Duduklah.” Suaranya berat, dalam, tapi tenang. Hera menelan ludah. Biasanya klien akan langsung tersenyum, meraba atau yang paling ekstrim langsung menerkamnya tanpa busana. Tapi pria ini? Ia hanya memandang keluar jendela, seolah keberadaan Hera bukanlah hal penting.
553 viewsOngoingAdded to Library 11 Times as meraba
Read
+Library
Terjebak Gairah Sang Cassanova

Terjebak Gairah Sang Cassanova

(21+) Zane melangkah pelan ke arah ranjang. Matanya tajam. “Bukankah aku sudah memperingati mu tadi agar kau melayaniku baik-baik? Tapi apa? Kau terlalu angkuh. Angkuh karena sudah tidur dengan Belvan. Apa kau pikir aku tidak sekuat Belvan di ranjang?" Ia berhenti satu meter dari Valerie. “Menolak aku dua kali, tapi begitu mudah tidur dengan Belvan?” “Tidur dengan tuan Belvan? Saya tidak pernah melakukan itu.”Valerie sampai melengos mendengar perkataan Zane. Bagaimana bisa Zane punya pikiran sepicik itu tentang dirinya. “Bohong,” sahut Zane dingin. “Kau hanya perlu melayaniku malam ini. Ambil uang yang ku beri, dan pergi jauh sebelum Belvan kembali dari Kanada. Valerie menegakkan dagunya."Tuan Zane... dengar kan aku baik-baik. Aku tidak menjual tubuhku. Tidak padamu! Tidak pada tuan Belvan! Dan tidak pada siapapun! Jadi koreksi semua isi kepala mu tentang aku! " Pekik Valerie, muak Zane semakin menghinamu. "Sungguh kau ingin memainkan permainan ini, Valerie? Haruskah aku mengecek sendiri dengan keperkasaan ku kau itu perawan atau tidak? ” Nada suaranya seperti silet. Dengan gerakan kasar, Zane membalikkan tubuhnya. Tangan besarnya menekan punggung Valerie, sementara yang lain meraba tali pengikat. "Kita akan buktikan." Bibirnya menyentuh telinga Valerie, setiap kata dihantarkan dengan getaran yang mengalir langsung ke pangkal pahanya. "Kau itu benar-benar suci atau cuma pura-pura." Kulit Valerie merinding. Bukan hanya dari ketakutan—tapi dari aliran listrik yang menyebar setiap kali nafas Zane menyentuh lehernya. Schlik! Blus belakangnya robek, kulit putihnya tersingkap perlahan seperti hadiah yang dibuka dengan penuh nafsu. "Ternyata..." Jari Zane menelusuri tulang punggungnya, mengikuti lekukannya seperti membaca peta dosa. "...kau menyimpan ini semua di balik kemeja ketatmu."
1012.0K viewsCompletedAdded to Library 370 Times as meraba
Read
+Library
Skandal Terlarang Sang Pria Arogan

Skandal Terlarang Sang Pria Arogan

Marrygoldie
☣️PERINGATAN!!!!☣️ Cerita ini mengandung adegan dewasa yang sangat tidak cocok dibaca untuk anak dibawah umur. Jadi yang sudah masuk kategori dewasa, silahkan masuk dan menikmati cerita. Jika ada yang melanggar peringatan ini, Marry tidak bertanggung jawab dengan reaksi yang akan kalian alami. * * * * * "Lepaskan pakaianmu!” "Pakaianku?” Maria mengulangi ucapan Alex. "Apakah kau mulai berubah pikiran? Sudah kukatakan sangat terlambat jika ingin berubah pikiran sekarang, Maria.” Maria menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak berubah pikiran. Aku akan membukanya.” Dengan tangannya wanita itu meraba resleting yang berada di samping tubuhnya. Setelah menemukannya, Maria menurunkan benda itu sehingga gaunnya pun mulai melonggar. Dengan wajah yang memerah Maria membiarkan gaun itu meluncur ke bawah dan jatuh di sekitar kakinya. Alex terdiam mematung melihat tubuh indah Maria. Tidak ada penghalang yang menutupi kulit putih halus Maria kecuali celana dalam merah muda lembut yang dikenakannya. Maria menunduk merasa malu. Dia menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi dadanya. Kaki Alex melangkah menghampiri wanita itu. Dia meraih kedua tangan Maria dan menyingkirkannya dari dada wanita itu. "Sudah terlambat untuk merasa malu, Maria. Mulai malam ini kau adalah milikku.” Tepat setelah Alex mengatakan hal itu dia mendaratkan bibirnya di atas bibir Maria. * * * * * "Asalkan kau bersedia bercinta denganku, menghangatkan ranjangku setiap malam.” Permintaan yang sulit bagi seorang pianis tunanetra bernama Maria Goulart. Terutama permintaan itu keluar dari mulut kakak tirinya, Alex Feldman. Ketika status keluarga perlahan menguap membuat dua manusia jatuh dalam hubungan yang tidak seharusnya. Alex yang begitu dingin berubah menjadi lembut kepada Maria. Namun saat wanita itu mengetahui alasan mengapa sikap Alex berubah padanya, membuat kepercayaan Maria hancur. Bisakah Maria terlepas dari sang kakak? Atau dia justru terjatuh semakin dalam?
1024.4K viewsOn holdAdded to Library 561 Times as meraba
Read
+Library
PREV
12
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status