MERTUA IDAMAN
“Tuh, perut kamu bunyi. Makan sana! Ibu panasin dulu lauknya, ya. Apa mau dimasakin yang baru?”
Seketika aku terkejut. “Ja–jangan, Bu! Ibu gak perlu melakukan itu. Aku bisa sendiri, kok.”
Ibu mertuaku terlalu baik. Kalau begini, aku bisa betah di sini. Aku bisa pastikan tidak akan mengeluh apapun soal hidup bersama mertua.
“Ibu gak makan juga?”