Pembantu Rasa Nyonya
“Justru spesial momen itu, Mel, kita harus berpikir spesial juga. Menikah itu ibaratnya pintu gerbang. Awal dari perjalanan yang panjang dan tidak hanya membutuhkan kata cinta. Namun juga biaya.”
Ucapan Wisnu menerbitkan senyumanku seketika. Pemikiran anakku mulai dewasa. Mas Suma juga mengalihkan pandangan ke arahku sambil berkedip, seakan menyatakan kesamaan pikiran denganku.
Amelia mengangguk-angguk. “Betul juga, ya.”
“Iya. Inti menikah itu sebenarnya yang diperlukan hanya dua. Sah di mata agama, dan resmi di mata negara. Dan itu tidak harus mengeluarkan uang banyak sampai cari pinjaman bank,” seru Wisnu.