Main Belakang
Aira duduk membisu, menempelkan keningnya pada kaca jendela yang berembun, menatap lalu lintas fajar dengan tatapan kosong dan bahu yang gemetar samar.
Bekas air mata di pipi perempuan itu sudah mengering, tetapi ekspresi hancur di wajahnya justru semakin kentara. Mobil sedan mewah Devan akhirnya berhenti tepat di ujung gang, sekitar lima puluh meter sebelum pagar rumah bertingkat milik Rian.
Aira yang meminta berhenti di sana, ia terlalu takut jika ada tetangga yang melihat, atau lebih buruk lagi, jika mobil Rian sudah terparkir di garasi.