Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Dia

Dia

Gadis itu menggerakan tangan dan kakinya seperti katak. "Heh! Bangun!" ucap Tita. Dia melempar tote bagnya ke atas ranjang. "Bentar Tit. Ngadem dulu," "Tat tit tat tit. Licin bener mulut lo nyebut nama gue begitu," Lea tertawa. Tita memang sangat tidak suka saat ada seseorang yang memanggilnya dengan 'Tit'. Menurut gadis itu, 'Tit' terdengar seperti kata mesum. Padahal itu 'kan memang namanya, duh.
102.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 89 kali sebagai niat m
Baca
+Pustaka
ANATASYA

ANATASYA

Ana mengangguk. "Baik Bu, saya permisi. Assalamualaikum" pamit Ana. "Waalaikumsallam." ~~~~~~~
2.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 95 kali sebagai niat m
Baca
+Pustaka
Status WhatsApp Ipar

Status WhatsApp Ipar

Nggak ada otak! Jemari Nita gatal ingin membalas Status W******p yang sudah Wati bagikan. Tapi mendengar deru motor Adam seketika ia urungkan niat dan memilih berlari kecil membuka pintu untuk menyambut Sang Suami yang baru pulang bekerja. "Adam!" Nita yang baru membuka pintu lagi-lagi dibuat geram dengan kedatangan Wati. "Jailangkung!" gumam Nita sambil cemberut.
1012.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 303 kali sebagai niat m
Baca
+Pustaka
Mencintai Seorang Climber

Mencintai Seorang Climber

“Siap Bu!” Marianne menoleh pada Anita, “Kamu mau ikut ke rumah mama?” “Ehmmm ... Nita mau pamit, mau persiapan berangkat ke rumah uwak di Jakarta. Maaf kalau Nita nggak bisa datang ke kondangan, tapi Zakki akan datang ke acara itu.” “Ya sudah, terserah kamu.” ***
3.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 81 kali sebagai niat m
Baca
+Pustaka
Setitik Nila

Setitik Nila

“Laper.” Atika terkekeh. Kembali memegang perut Nila dan merasakan sebuah tendangan keras dari dalam sana. “Oke, oke. Sabar sebentar, ya.” “Mas, kami udahan lihat-lihatnya,” ujar Mila pada sales yang mendampingi mereka. “Nanti urusan selanjutnya, bisa sama orang dalamnya Ibu Atika, ya.” “Milaaa!” Nila langsung mencapit bibir saudaranya dengan gemas. “Mulut kamu ini, ya!”
1037.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.4K kali sebagai niat m
Tampilkan Ulasan (25)
Baca
+Pustaka
Maria Adjah
sedikit menguras emosi... walau agak ringan dari novel² mbak kanita yg lain nya... tapi tetap alurnya selalu buat penasaran... selalu suka buku² yg d tulis mbak kanita... semangat terus mbak kanita menulis buku² yg lain... aq selalu menunggu karya karya mu yg terbaru mbak...
Meilia
baru kali ini q baca karya mba yg lagi on going, karena sebelumnya q baca yg UD end, tapi baru baca awal aja Uda nyandu pengen terus .. suka sama alurnya, gaya bahasa , tema ny juga menarik dn g bikin bosen... d tunggu typ hari update an nya mba, mg pak djiwa sama nila happy ending pokoknyaa harus.
Baca Semua Ulasan
Cinta Sekolah Menengah Pertama

Cinta Sekolah Menengah Pertama

kata Davi bingung. “Hahaha, bukan bokap gue. Tapi nyokap. Cuma udah lama tinggal di Indo, jadi ya udah bisa Bahasa Indonesia lancar,” jawab Narita sambil tertawa. “Hahahaha, pantes, gue kira lo Chinese awalnya. Ternyata keturunan Jepang ya.” “Hehehe, iyaaaa. Banyak yang ngira gue dan Yoshi Chinese.” “Eh iya, bulan depan kan Matari ulang tahun, kasih saran dong buat kadonya.”
1015.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 305 kali sebagai niat m
Baca
+Pustaka
Bukan Ibu Tiri Negeri Dongeng

Bukan Ibu Tiri Negeri Dongeng

Ia balik berbisik. "Mas, tidak baik loh kamu makan dalam keadaan kotor dan berkeringat seperti itu, mandi dulu gih," kata Niami di seberang meja. Aku terhenyak, bisa-bisanya Niami berkata demikian pada Mas Nata depanku, sebetulnya maksud dia apa sih? "Tidak usah, kasihan anak-anak akan nunggu lama, lagipula aku tidak akan mandi jika Elia belum memberiku sesuatu," balas Mas Nata sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.
1026.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 561 kali sebagai niat m
Baca
+Pustaka
Mendadak Jadi Ibu Susu Anak Atasanku

Mendadak Jadi Ibu Susu Anak Atasanku

Dengan suara yang tegas dan tidak terbantahkan, ia berkata, “Jangan bermimpi, Nadia! Itu tidak akan pernah terjadi. Ketahui posisimu dan jangan menginginkan posisi orang lain! Sekali pun Mariana tidak ada, kamu tidak akan pernah bisa menempati posisinya!” Nadia terkejut, namun kemarahan segera menggantikan ekspresi terkejutnya. “Kamu pikir kamu bisa menghalangi aku?” Nadia berteriak keras, tak terima dengan pernyataan Nate. “Kamu pikir aku akan diam begitu saja?! Aku bisa membuatmu luluh dan mencintaiku!” “Sudah cukup, Nadia!” Nate membentak, suaranya begitu keras hingga membuat Nadia tersentak mendengarnya “Kamu sudah melewati batas. Aku tidak akan membiarkan ini dengan mudah!”
1037.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.2K kali sebagai niat m
Baca
+Pustaka
Jadilah Pedangku, Sayang!

Jadilah Pedangku, Sayang!

Ia tetap bergeming di tempatnya demi satu tujuan, menyaksikan secara langsung bagaimana interaksi suaminya dengan Muniratri saat dirinya tak ada. “Yang Mulia, jika Anda bersikeras seperti ini, Anda akan sakit nanti,” bujuk Narti. Perempuan itu masih enggan bersuara. Dia menanggapi perhatian si dayang dengan menggosok-gosok telinga, seolah seekor nyamuk baru saja hinggap di sana. “Yang Mulia ...,” seru Narti untuk ke sekian kali. “Hsssst!!” Ndari memasang jari telunjuk di depan bibir. Sorot matanya memancarkan keseriusan.
102.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 49 kali sebagai niat m
Baca
+Pustaka
Kubalas Madu dengan Manisnya Madu

Kubalas Madu dengan Manisnya Madu

Ide yang lumayan ini, setidaknya penolakanku tak terlihat dan bermain secara halus. "Ya udah, Dek! Umi mau salat dhuha dulu, makasih ya atas pijitannya!" "Eh... Iya, Umi. Sama-sama, jangan di makan sarapannya takut ditebar racun!" Nita langsung mengambil nampan tadi tanpa di minta dan membawanya keluar. Memang Nita benar-benar pengertian. ****
10145.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 4.6K kali sebagai niat m
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
45678
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status