Rasa
Suara yang halus bersatu dengan gemanya sebuah ruangan.
Sepanjang rangkaian kata yang ustadzah sampaikan, Kyra tidak mengizinkan satu pun tetes air mata membasahi wajahnya. Bukan tak mengizinkan, lebih tepatnya, air mata itu belum kembali meminta izin untuk keluar, setelah tadi memberi isyarat. Sepertinya gadis itu sudah terlalu sering melarang air mata tersebut turun, hingga akhirnya air matanya menunda untuk keluar lagi sekarang. Singkatnya, tak mampu menangis. Tapi bukan berarti tak hancur. Gadis itu kembali diingatkan dengan rindu yang entah bagaimana cara melunasinya. Sosok yang biarpun ia temukan kembarannya, tak akan mungkin bisa menggantikan posisinya.
Sikat na Kabanata