KINASIH
bisik Mariana sembari merebahkan kepala di punggung Sumi.
Wanita itu bereaksi, bergerak dan memutar tubuh. Kini mereka saling berhadapan. Sumi, dengan air mata masih mengalir di kedua pipinya, mengangguk pelan. "Ya, Nyonya adalah anak saya. Buah hati saya yang dulu sengaja saya tinggalkan di panti asuhan karena ... saya tak ingin Nyonya hidup sengsara," tutur Sumi dengan isak tangis yang semakin tak dapat ditahan. Dia juga memberitahukan perihal tanda lahir di lengan kanan, yang dengan refleks, Mariana mengangguk dan memperlihatkan tanda itu pada Sumi.
Hot Chapters