JANGAN GANTUNG MUKENAH DI BALIK PINTU
Dagu yang runcing itu merolot ke depan, tepat di depanku seorang lelaki yang ternyata bernama Burhan, bersandar di tiang ruang kereta, rambutnya yang kribo mengkilap seperti disemir menggunakan minyak tawon sejerigen, kumisnya lebat nan hitam, kancing atas di kemeja putihnya tak dipasang, ganteng sih, tapi sangat pamer aurat.
“Lah, kedip mata genit lagi dia. Tuh, Mel, anak ganteng jangan dianggurin gitu. Kasian.” Seloroh Mayang sambil menikmati telurnya tanpa nasi. Aku yang tak percaya kembali melirik Burhan, Ya Tuhan, dia sampai tersenyum lebar seperti sedang kasmaran.