SENYAWA
ucap Rizki sahabat Nameera yang juga bekerja di perusahaan tersebut, namun mereka beda divisi.
“Sabar, Ki. Aku udah dua kali dipanggil tadi, malas kalau sampai yang ketiga kali. Ketahuan banget aku bodohnya!” cetus Meera sambil masih tetap mengetik berkas yang harus direvisi, matanya pun tak teralihkan dari layar komputer.
“Aku duluan aja deh, ya,” Rizki yang sudah tak sabar akhirnya meminta izin kepada sahabatnya, dengan berat hati Meera memperbolehkan Rizki ke kantin terlebih dahulu.
Hot Chapters