WANITA PENAKLUK SAMUDRA
Bukan cahaya fisik, melainkan sebuah sensasi, sebuah keberadaan.
Dia melihatnya. Bukan dengan mata, tetapi dengan pikiran dan jiwanya. Di tengah kolam, air mulai bergejolak, tidak keras, melainkan dengan gerakan yang anggun, lambat, dan penuh tujuan. Gelembung-gelembung kecil naik ke permukaan, membentuk spiral, lalu garis-garis yang melengkung. Perlahan, tetesan-tetesan air itu bersatu, menari, memadat, membentuk sebuah siluet. Sebuah patung.