Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
JEJAK RINDU YANG TERLARANG

JEJAK RINDU YANG TERLARANG

sapa seorang wanita muda dengan senyum ramah, mengenakan seragam butik yang rapi. Luna tersenyum tipis. "Saya lihat-lihat dulu, ya, Mbak." "Baik, Bu, silakan!" Wanita itu mengangguk sopan, membiarkan Luna menjelajahi butik dengan leluasa. Luna memandangi gaun-gaun mahal yang terpajang, merasa asing di tempat seperti ini. Karena selama ini dia tidak memiliki pakaian dari butik mahal seperti ini. Ia tidak berniat membeli apa pun, hanya mencoba mencari petunjuk tentang sosok bernama Ratna.
2.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 97 kali sebagai pantun jenaka
Baca
+Pustaka
 JADI JANDA GARA-GARA JANDA

JADI JANDA GARA-GARA JANDA

"Maksud Mbak apa?" "Janita, Janita, coba kamu pikir, kemarin Diandra membuat kesalahan yang sangat Patal dengan menakuti Jali dengan seekor cicak. Yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Kelakuan wanita itu seperti bocah kecil begitu… Apa yang mau kamu pertahankan coba? Sudah miskin, hanya anak pembantu juga… masih ada wanita-wanita muda yang lebih layak untuk dijadikan calon istri Jali, contohnya Alina. Dia lebih pintar dan juga dari keluarga terhormat. Bahkan Alina juga punya sopan santun tak seperti wanita pilihan kamu itu," papar Bude Meri.
105.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 172 kali sebagai pantun jenaka
Baca
+Pustaka
Pengantin Pengganti Pewaris Angkuh

Pengantin Pengganti Pewaris Angkuh

Kata-kata sindiran dari Nalani, membuat Amora menoleh menatap wanita itu. “Maaf? Apa maksud yang kau ucapkan?” tanya Amora dengan nada tenang, dan sangat sopan. Nalani menatap sinis Amora. “Ck! Munafik. Aku tahu kau menerima perjodohan ini karena ingin hidup enak dan nyaman, kan? Kasihan sekali. Wanita rendah sepertimu itu, seharusnya tidak layak menikah dengan Aiden!”
9.610.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 269 kali sebagai pantun jenaka
Baca
+Pustaka
Perjanjian Leluhur

Perjanjian Leluhur

"Baru minta kentut saja marah-marah! Bagaimana minta body goal mu?" Cakra seakan mempermainkan mereka dengan jurus Cinta Di Ranting Cemara, sehingga empat perempuan cantik jelita itu naik darah. "Jangan terpancing!" seru Pak Tua. "Aku pernah mendengar ada jurus menepuk pantat monyet menggebah kentut gorila!" Cakra pernah menyebut jurus itu secara asal, dan nama itulah yang populer di kalangan pendekar.
9.946.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.6K kali sebagai pantun jenaka
Tampilkan Ulasan (21)
Baca
+Pustaka
Enday Hidayat
Telah terbit karya saya "Mengejar Cinta Puteri Bangsawan" bercerita tentang perjuangan Arjuna dalam mencari bapaknya untuk memenuhi persyaratan acara lamaran klan Angada. Bagi reader yang suka romantika cinta dengan latar cerita abad 21 dan abad 16, cerita ini cocok untuk diintip sejenak.
Kurnialam
Satu Hal yang membuatku makin suka baca novel ini adalah tata bahasa yang digunakan adalah tata bahasa millennial. So, saat kekaguman pada Bastian Tito & Kho Ping Hoo berpadu dengan bahasa Gen Z, novel ini memberikan nuansa yang segar & mengena di hati. Terlebih ada sentuhan kritik Bang Iwan ......
Baca Semua Ulasan
Sang Penakluk

Sang Penakluk

Semua saling menyenangkan satu sama lain. Sementara Keenan merasakan hangatnya mulut Jena yang terus beraksi di tubuhnya bagian bawah. Keenan Ganendra, pemuda berdarah priyayi jawa, memiliki gejolak muda yang ia umbar dan tidak pernah berhenti mencari kepuasan. Inilah surganya! ***
1045.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.0K kali sebagai pantun jenaka
Baca
+Pustaka
Perjaka Kepincut Janda

Perjaka Kepincut Janda

Ia menoleh dan tertawa kecil, membuat Anggit heran dan bertanya-tanya apakah ada yang lucu. "Aku injak pabrik lelenya, di depan selingkuhannya," jawab Della yang kemudian benar-benar tertawa karena menganggap itu sangat lucu. Anggit terkejut dengan mulut menganga, bahkan otaknya masih mencoba menelaah apa yang dimaksud dengan pabrik lele oleh Della. "Pabrik lele? Apa maksudnya itu?" tanya Anggit polos.
1017.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 612 kali sebagai pantun jenaka
Baca
+Pustaka
DARAH SEPASANG

DARAH SEPASANG

Api tersebut melahap tubuh Kelabang Geni. Dia menjerit, meronta kesakitan. Tapi anehnya, Kelabang Geni tak mati. Dia lari menjauh, sambil berujar, "Awas Pajenengan, Resih Jalada. Badhe Dalem gigataken, wonten Kanjeng Wardan Sastra!" (Awas Kau, Resih Jalada. Akan Aku adukan, pada Kanjeng Wardan Sastra) ujar Kelabang Geni, diiringi tertawa melengking dan menghilang di balik pekatnya kabut putih.
106.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 185 kali sebagai pantun jenaka
Baca
+Pustaka
Renjana

Renjana

katanya dengan tampang polos bin bloon. “Wuahahahwuahaha kamu ajak dia nikah? Hahahah 1+1 aja kamu masih belum bisa, tulisan ayam saja kamu baca pitik (pitik adalah bahasa jawa dari ayam), hancurlah kalau kamu nikah, Dikaaa Dika, sadar kamu! Masih ingusan juga,” aku tidak bisa menahan tawa, hingga air mataku berjatuhan dan perutku kram, aku masih tertawa.
103.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 105 kali sebagai pantun jenaka
Baca
+Pustaka
Please, Uncle Jangan Nakal!

Please, Uncle Jangan Nakal!

Ia lalu memberikan cengiran tipis yang tampak dipaksakan. “Ah, itu... aku belum sempat melakukannya karena sibuk mengurus apartemen lama yang cukup berantakan. Kau tahu sendiri kan betapa perfeksionisnya Tuanmu itu? Aku harus memastikan tidak ada debu sedikit pun.”
102.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 62 kali sebagai pantun jenaka
Baca
+Pustaka
Love of My Life

Love of My Life

gerutu Pandan sebel. "Bejalan hendak menepi. Supayo idak tepijak kanti. Becakap piaro lidah. Supayo kanti idak meludah." Pandan terdiam. Soalnya ia sama sekali tidak tahu apa arti kata-kata si Mahater ini. Dia yang dari lahir dan besar di ibukota seperti ini, manalah ia mengerti bahasa daerah Jambi. Lain kalau tadi ibunya yang diberi jawaban berpantun seperti ini. Pasti bisa langsung dibales dengan sama merdunya oleh ibunya. Lah dia ini kan tahu pantun cuma dari acaranya almarhum Olga dan Kang Opick doang. Paling pantun yang melekat di kepalanya itu adalah kata-kata; masak aer biar mateng. Dan dijawab audiens dengan kata; cakeppp. Dah itu aja.
9.921.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 773 kali sebagai pantun jenaka
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status