Taubat Sang Pendosa
"Papa gak pernah bilang apa-apa, Ma, ucapku membela diri.
Aku berusaha mengingat sesuatu, apakah aku pernah salah berucap sehingga Fajar mengikuti hal yang salah. Namun, hingga beberapa saat tak kutemukan di mana letak salahnya.
"Kata Papa, kalau kita suka sama seorang wanita, kita boleh sentuh pipinya. Kayak Papa sentuh Mama."
Riska menatapku dengan tajam saat mendengar penuturan Fajar. Aku hanya bisa terdiam lalu mengusap wajah berulang kali. Singa betina di hadapanku sudah mulai mengaum. Jangan coba-coba melawan, jika tak ingin dia menerkam.