DIPTA
Pulpen sudah di tangannya pun tidak bergerak, ada terlalu banyak yang ingin ia katakan, tapi tidak ada satu pun yang terasa cukup.
Kalau ia menulis terlalu banyak, ia takut terlihat memohon. Kalau terlalu sedikit, ia takut Dipta tidak mengerti. Matanya mulai panas, tetap ia menahan. Menarik napas pelan beberapa kali, lalu akhirnya tangannya bergerak. Tulisan pertama muncul, gemetar dan tidak rapi, hanya terasa lebih jujur.
"Aku nggak tahu kamu bakalan seneng atau nggak."
Hot Chapters