Gue ingat betapa kacau semua terasa pada malam sebelum nikah kecil itu — nonton film sambil gundah, ngobrol sampai larut, dan baru sadar urusan legal sama keluarga belum beres semua.
Perbedaan umur bikin dinamika yang aneh tapi juga menyenangkan. Dia lebih matang, tahu apa yang mau, dan sering mengarahkan agar aku lebih tenang; aku sering jadi lebih spontan, bawa ide-ide gila soal liburan dadakan atau dekorasi simpel. Komunikasi jadi kunci: kita harus jujur soal ekspektasi, soal anak, soal keuangan, dan soal bagaimana kita akan menghadapi komentar orang sekitar. Biar singkat, nikah kilat bukan soal buru-buru, melainkan memilih hidup bareng dengan keputusan matang walau prosesi ringkas.
Praktisnya, atur dokumen, bicarakan rencana pasca-pesta, dan siapkan support system—teman atau keluarga yang ngerti situasi. Aku belajar untuk sabar dan menerima kebiasaan dia yang beda, sekaligus menetapkan batasan yang membuatku nyaman. Di akhir hari itu aku capek tapi tenang, karena kami sepakat untuk saling mengisi, dan itu rasanya worth it.