Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan
Pada hari ketika Marcel Davka kembali ke Hangkang setelah membunyikan lonceng pembukaan perdagangan di Wolstrit, ambang pintu rumah Keluarga Ehren nyaris rusak karena didatangi banyak orang.
Semua orang berkata bahwa Kana Ehren, putri sulung Keluarga Ehren yang manja dan angkuh, telah bertaruh pada orang yang tepat. Di kawasan kumuh, dia berhasil menemukan menantu yang luar biasa berbakat.
Namun, beberapa hari terakhir ini Kana justru sangat gelisah.
Penyebabnya, dia terus dihantui oleh sesosok hantu perempuan.
Semua itu bermula sejak Marcel berangkat ke Amriga.
Tiba-tiba, di sisinya muncul sosok hantu perempuan gila yang hanya bisa dilihat oleh Kana. Sosok itu mengaku sebagai dirinya di masa depan.
Hantu perempuan itu memiliki wajah yang sama persis dengannya, tetapi penuh bekas luka.
Suaranya serak, tatapannya kosong.
Rambutnya kering dan kusut, dengan ujung-ujung yang tidak rata seolah pernah terbakar.
Dia seperti orang gila, bahkan bicara pun tidak jelas, menangis siang dan malam tanpa henti.
Sampai hari ini, pada pesta perayaan keberhasilan Marcel.
Kana berdandan dengan sangat cantik dan membawa buket mawar di tangannya.
Namun, tepat saat hendak mendorong pintu masuk, tangan hantu perempuan yang penuh luka itu menekan tangannya.
"Jangan masuk. Kehormatan yang dia raih bukan milikmu, tokoh utama malam ini juga bukan dirimu."