Dokter Sakti Penguasa Dunia
Nazar berkata, "Puisimu ini emosinya tulus dan sederhana. Dengan gaya realisme, kamu berhasil menggambarkan kemegahan Gunung Angkara secara luar biasa."
"Menurutku, puisi ini cukup untuk disejajarkan dengan karya penyair zaman kuno. Kalau saja kamu lahir di Dinasti Taraga, mungkin gelar Dewa Puisi sudah jadi milikmu."
Karavir langsung berseri-seri. Dia maju dan menggenggam tangan Nazar dengan penuh haru. "Master, kamu benar-benar belahan jiwaku!"
Ewan sudah tak sanggup melihat sandiwara itu lagi. Dia langsung menarik Nazar pergi. "Berhenti buang-buang waktu, cepat bantu aku cari nadi naga."