Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Lebih dari selamanya

Lebih dari selamanya

Siapa gerangan yang berhak bersanding denganmu? Aku hanyalah Senja yang selalu takut mendekatimu... Berharap ketika kau membenciku... Pantaskah aku memperjuangkanmu? Puisi sang Senja yang sedang merindu. Ia tulis di sebuah kertas dengan pena pemberian raja sewaktu ia mengikuti sayembara puisi untuk sang putri. Ia sangat dekat dengan raja tapi tidak tahu maksud kedekatan itu karena memiliki perasaan dengan sang putri. Sayembara itu hanyalah hadiah berupa uang bagi rakyat jelata sepertinya. Ibunya menjadi dayang. Ayahnya menjadi Prajurit. Sedangkan dirinya hanya bisa membantu kedua orang tuanya jika ada bantuan. Kalau ditanya hobi, ia memiliki hobi memandang sang putri. Sementara cita-citanya
105.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 195 kali sebagai puisi dia
Baca
+Pustaka
Bangkitnya Istri yang Terbuang

Bangkitnya Istri yang Terbuang

Jika sebelumnya puisi yang tertulis bertema patah hati atau penantian, maka kali ini puisi yang ia ciptakan bertema tentang indahnya sebuah cinta. "Citra, lagi apa, Nak?" Suara Dian di luar kamar mengejutkannya yang tengah mengetik. "Enggak lagi apa-apa, Ma," jawabnya sedikit berteriak. "Kalau gak sibuk, tolong bantu Mama yuk beres-beres. Kasihan Mbak sendirian dengan pekerjaan yang banyak begini." "Oh iya, Ma, sebentar, ya."
1053.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.7K kali sebagai puisi dia
Baca
+Pustaka
AEONIAN : Yang Pernah Terjadi Akan Abadi

AEONIAN : Yang Pernah Terjadi Akan Abadi

Mengapa kau mengalir pergi Kala ucap terpatri di hati Akankah kau buktikan kau benci dirimu sendiri Kau tolak empat mata Namun, kau suka main mata Nan, bolak balikkan kata Laksana bunga tidur yang terasa Pijar yang ku cari Bukan kata manis yang kau beri Nostalgia yang ku rasa Apa kau merasa hal yang sama? Iblis kejam... Lihat tanda tanya ini Bisakah kita menjadi sahabat? Atau Berteman hingga akhir hayat? Nan, maaf kutelusupkan kau dalam puisi ini 26-04-2018 “Siapa yang menulis puisi ini? Tidak ada penulisnya” ucap Arka “Mungkin di kotak tadi ada sesuatu yang lain” lanjut Arka sambil turun dari kasurnya mengambil kotak yang dia banting tadi
107.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 188 kali sebagai puisi dia
Baca
+Pustaka
PAPA MUDA

PAPA MUDA

H anya ini cara buktikan kalau aku bukan dia E nyahkan segala untuk sebuah ambisi dan asa N antikan waktu yang tepat tuk bersama D engan segala kesakitan berbalut bahagia R intik hujan pun tak sanggup hilangkan rasa A ku inginkan kamu melebihi dunia dan seisinya Gerimis di bumiku, 1 Agustus 2022' Dyra menarik napas dalam setelah menuliskan puisi yang tersusun dari nama sang pria dan mengunggahnya di lama media sosial. Sungguh, rasanya seperti banyak bebatuan berguguran yang hilangkan sesak dada. Walaupun pria di sana mungkin tidak pernah tahu isi hati yang sebenarnya. Setidaknya rasa di hati telah tersampaikan di tempat yang memberikan banyak manfaat ilmu literasi. "Baiknya sekarang tidur. T
108.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 172 kali sebagai puisi dia
Baca
+Pustaka
DIA AYAHKU

DIA AYAHKU

"Dia masih hidup?" "Ciss... " aku mendesis dengan pertanyaan konyol itu. "Dia akan menuntutku?" "Paman takut?" "Tidak." "Paman tenang saja, dia tidak akan melakukannya." "Apapun alasannya, jangan pernah berhubungan dengannya lagi. Aku tak suka," perintah Paman seperti biasanya. "Iya, Paman," aku menurut. "Jadi, kita berdua sekarang jadi pengangguran, ya?" ujarnya kemudian.
1026.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 752 kali sebagai puisi dia
Baca
+Pustaka
TRASHY

TRASHY

batinnya lagi dengan helaan napas yang teramat panjang 💔 Acara pensi berlangsung riuh dan meriah. Kalau yang menebak kelompok Dianalah pemenangnya, ya! Betul, mereka menang karena bakat yang ditampilkan sangat berbeda dari kelompok lain yaitu, musikalisasi puisi. Diana menulis puisi, Lia dan seorang gadis bernyanyi, satu perempuan memainkan okulele, dan gadis kurus bernama Putri bertugas membacakan puisi buatan Diana berjudul 'Mimpi dan Ibu', yang isinya sederhana. Begini :
103.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 80 kali sebagai puisi dia
Baca
+Pustaka
DIA ATAU DIA

DIA ATAU DIA

Dia memang tak keberatan, tapi hatinya masih diliputi kebingungan. Luca membawa Rin ke sebuah jembatan kecil yang menghadap ke sungai. Cahaya dari lampu jalan memantul di permukaan air, menciptakan pemandangan yang indah. “Dulu, saat aku merasa kacau, aku selalu datang ke sini,” ujar Luca sambil menatap air sungai yang mengalir pelan. “Kenapa?” Rin penasaran. “Karena air sungai selalu mengalir, tidak peduli apa pun yang terjadi. Seperti hidup. Tak peduli seberapa sulit situasinya, kita harus terus bergerak maju.”
101.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 41 kali sebagai puisi dia
Baca
+Pustaka
Kuberi Segalanya, Tetapi Dia Berpaling

Kuberi Segalanya, Tetapi Dia Berpaling

Aku baru akan bergerak ketika sebuah suara terdengar dari sisiku, "Aku tidak merasa dia milik pribadimu. Sebaliknya, keunggulannya adalah sesuatu yang tidak bisa kamu raih." "Seorang wanita yang naik ke atas berkat pria, lalu menendangnya setelah sukses, itu adalah kebodohan terbesar." "Bukankah begitu, Bu Raisa?" Raisa memandang Citra yang berbalik, matanya langsung terbelalak lebar. "Bu Citra!" Di sebelahnya, mata Krisna tampak berbinar. Aku tahu pria ini tertarik pada Citra, hanya saja Citra tidak tertarik pada penipu licik seperti dia.
6.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 129 kali sebagai puisi dia
Baca
+Pustaka
Dokter Sakti Penguasa Dunia

Dokter Sakti Penguasa Dunia

Nazar tertawa dan berkata, "Aku tiba-tiba mendapat ilham, jadi membuat sebuah puisi. Silakan kalian menilai." "Langit membentang, padang meluas, Dika dari Keluarga Aditya sungguh buas. Daya tempur luar biasa lama, dari dini hari hingga gulita menjelma. Di kamar tersembunyi dara jelita, kini melangkah pun harus bersandar pada tembok ...." "Diam kamu!" Dika tidak menunggu Nazar menyelesaikan puisinya dan langsung memaki, "Dasar tua bangka! Berani-beraninya bicara omong kosong lagi! Hati-hati aku bunuh kamu!"
9.51.1M DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 23.9K kali sebagai puisi dia
Baca
+Pustaka
Dia, Yang Mudah Dihibur

Dia, Yang Mudah Dihibur

Pagi-pagi sekali, aku terbangun gara-gara mendengar suara dari dapur. Brian dengan kemeja yang digulung sampai siku, lengan kekar dan berotot itu sedang sibuk membolak-balik wajan, menghangatkan kembali semua masakan semalam. “Hari ini aku temani kamu merayakan hari Idul Adha yang terlewat kemarin.” Dia menjepit sepotong daging asam manis dengan spatula dan mencicipinya. “Lumayan enak juga.”
8.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 233 kali sebagai puisi dia
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status