Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Setelah Engkau Mendua

Setelah Engkau Mendua

"Mau, tapi ada hadiah nggak?" "Ada donk." "Hadiahnya apa, Pa?" "Em apa ya? Bingung juga. Oo gini aja, yang menang Boleh minta apa aja sama yang kalah. Terus yang kalah harus menyanyi sambil joget-joget." Tawa Dzabir seketika pecah, melihat dia demikian rasa bahagia menyebar begitu saja di dalam dada. Sungguh aku telah menyia-nyiakannya selama bertahun-tahun. Maafkan Papa, Nak.
9.167.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.2K kali sebagai puisi dia
Baca
+Pustaka
PURA-PURA TIADA

PURA-PURA TIADA

Jawab Arin sambil menampilkan ekspresi wajah serius. Mereka semua akhirnya berpencar sesuai Arahan Arin. ___ Kunes memandang pintu didepannya sambil menahan tawa. Dirinya tadi mengira, bahwa poster nenek jongkok itu adalah poster salah satu artis Korea yang sering dibicarakan istrinya. Namun ternyata, memang gambar nenek-nenek jongkok, yang tidak lain adalah Puspa yang sedang berjongkok diatas sebuah batu.
1.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 47 kali sebagai puisi dia
Baca
+Pustaka
Aku Bukan Mesin Pencetak Uang

Aku Bukan Mesin Pencetak Uang

'Dia. ____ Bersambung ....
106.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 158 kali sebagai puisi dia
Baca
+Pustaka
DIAM-DIAM MENCINTAI SUAMIKU

DIAM-DIAM MENCINTAI SUAMIKU

Alisha segera turun untuk membuka pintu. Perempuan berumur 24 tahun, mengenakan kaus hijau dan celana jeans biru muda, berdiri di hadapan Alisha. Dia cantik, dan juga memiliki tubuh yang indah. Diam-diam Alisha minder dengan kesempurnaan rupa perempuan itu. "Namaku Delia, Art baru yang diminta Kak Dani kemari." "Oh, masuk-masuk." Ia segera memersilakan perempuan itu masuk. "Tas kamu taruh saja di kamar yang berada di dekat ruang tengah menuju dapur, setelah itu langsung saja masak, ya."
102.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 94 kali sebagai puisi dia
Baca
+Pustaka
Delia (Gadis Pengagum Senja)

Delia (Gadis Pengagum Senja)

Senja Kau memberikan ketenangan Datangmu penuh harap Meninggalkan kesepian Ketika kau pergi, Pertemukan ku dengan malam Senja aku tak ingin sendiri Penuh asa menunggu mu datang Memandang pelik di tepi Pantai Riuh suara desir angin Menyapu keheningan Semua orang lantas bertepuk tangan dengan puisi yang di bacakan Delia. Gadis itu pun sangat senang tak hentinya tersenyum,di belakang Damar melambai ber isyarat memberikan selamat pada sahabatnya. Delia yang melihatnya pun ikut melambaikan tangan dan lantas menemui Damar. Mereka berdua duduk bersama sambil menunggu pemenang lomba yang akan di baca oleh Juri. Delia sudah tak sabar menunggu sesekali melihat kesekitar ruangan. Dan pada akhirnya Juri
106.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 202 kali sebagai puisi dia
Baca
+Pustaka
g a d i s

g a d i s

Tapi tidak semuanya Jati yang terus gugur di musim kemarau atau salju yang mencair ketika terik matahari bersinar Apapun di manapun Siapa aku Aku hanya ingin berteriak dan mengatakan Menjadi harapan tanpa kebanggaan itu sangat menyakitkan Gadis, 10/10/2021 Sebuah sajak telah selesai ia tulis, notes ini penuh dengan banyak rangkaian tulisan indahnya 'si punjangga ulung' Febi biasa melebeli Gadis dengan sebutan itu. Semua sajak yang Gadis tulis di notes ini merupakam bentuk curhatannya. Semacam, ya Diary. Saat ibu mengatakan bahwa gadis adalah harapan paling besar di keluarga ini hal itu membuat Gadis merasa malu, apa lagi kalau bukan karena Gadis belum memiliki sesuatu yang bisa di banggakan.
9.72.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 72 kali sebagai puisi dia
Baca
+Pustaka
Diam-Diam Jadi Madu

Diam-Diam Jadi Madu

Dia adalah sahabatku, sekaligus istri sah Mas Indra. "Tia... Kamu" ucapku tak mengerti. "Iya aku, Meg. Aku tahu semuanya apa yang telah kamu sembunyikan dariku. Sungguh kamu sahabat paling jahat, tega merebut Mas Indra" ucapan tia menyambar hatiku, tia yabg manis dan lembut kini datar mukanya tak bermimik. "Maafkan aku Tia. Aku---"
1012.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 264 kali sebagai puisi dia
Baca
+Pustaka
Dia

Dia

tanya Tita--nama gadis itu. "Iya, elah. Gitu aja jugaan," Lea bersungut. Dia kira ada hal penting apa yang ingin di sampaikan Tita sampai dia berani berbisik di kelas dosen yang terkenal killer ini. Baru saja Lea ingin memperbaiki posisi duduknya, terdengar suara dari arah depan kelas. "Kalian berdua! Yang bisik-bisik itu! Coba kalian jelaskan kenapa daya literasi di Indonesia relatif rendah?"
102.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 86 kali sebagai puisi dia
Baca
+Pustaka
Cinta Sang Preman

Cinta Sang Preman

Waw, keren. Dia jago mengolah kata-kata. "Hebat banget kamu," "Issh, gak juga ah." "kamu suka puisi?" "Suka, kamu bisa bikin puisi kan? coba bikin buat aku, Ta." "Besok aku buatin ya," "Wokeh," Rio memang pribadi yang menyenangkan, kenapa harus dia tercemplung di dunia hitam. "Ta, kriteria lelaki idaman lu kek apa?"
104.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 99 kali sebagai puisi dia
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
45678
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status