Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
The Huntress Trilogy #1 Daughters of Lucifer

The Huntress Trilogy #1 Daughters of Lucifer

Coque, Roth dan Asmund berdiri dengan posisi sama, di belakang Nina dan Elba. Roth tidak pernah menyangka, jika genderang yang bertalu-talu, dipukul mengiringi lagu pujian tersebut, kini tidak lagi menyakiti jiwanya. Anugerah yang telah ia terima membuatnya menjadi melankolis. Hatinya tersentuh oleh keindahan yang dulu terdengar seperti siksaan tak terperi. Glória in excélsis Deo Et in terra pax homínibus bonae voluntátis.
9.733.4K viewsCompletedAdded to Library 767 Times as puisi elegi
Read
+Library
Sama-sama Egois

Sama-sama Egois

Pove Sindi. Egois, keras kepala mau menang sendiri, aku menyesal menikahimu, Mas. Kamu tidak akan pernah berubah aku yakin. Aku terdiam di kamar suamiku keluar entah kemana setelah pertengkaran tadi, aku yakin dia sedang menyalakan batang rokok dan menyesap benda itu di depan rumah, jika kami sedang bertengkar suamiku selalu menghindar dan menyesap benda itu.
102.8K viewsOngoingAdded to Library 99 Times as puisi elegi
Read
+Library
Pembalasan Elegan Sang Mantan Istri

Pembalasan Elegan Sang Mantan Istri

Ku merasa sesal dalam kata Tapi kini kamu memang bersalah Kau berubah untuk selamanya 🎶 Sifatmu yang membuat diriku jenuh Mendua di balik mataku 🎶 Ku tak mengerti cinta Indahnya hanya di awal ku rasa Mengapa kau benar Dan aku selalu salah Ku tak mengerti dia 🎶 Cinta ini bukan hanya kau yang rasa Ternyata dia bukanlah pujaan dalam hatiku Ku tak mengerti cinta 🎶 Indahnya hanya di awal ku rasa Mengapa kau benar Dan aku selalu salah Ku tak mengerti dia Cinta ini bukan hanya kau yang rasa Ternyata dia bukanlah pujaan dalam hatiku Ku tak mengerti cinta 🎶 Linar hampir saja larut dalam kesedihan yang jenuh membuatnya mengantuk, hingga tiba-tiba..
8.727.4K viewsCompletedAdded to Library 767 Times as puisi elegi
Read
+Library
Sang Penjaga Pajajaran

Sang Penjaga Pajajaran

Halamannya berwarna gading pucat, tulisan di dalamnya bercahaya lembut, dan di halaman pertama tertulis: “Kitab Layung – Naskah Rasa Pajajaran Eling.” Ia membacanya pelan, bukan dengan suara, tapi dengan hati. Dan dari dalam kitab itu, seolah-olah terdengar suara Larisa membisik lembut: “Rasa téh moal luntur, sanajan waktu robah. Sabab rasa téh nyawa nu teu bisa dituliskeun.” (Rasa tak akan luntur, meski waktu berubah, karena rasa adalah jiwa yang tak bisa ditulis.)
101.5K viewsOngoingAdded to Library 43 Times as puisi elegi
Read
+Library
Suami Egois

Suami Egois

Aku butuh pelampiasan. Aku memegang erat tangan Bening, dan ekor mataku melihatnya. Terlihat Ning tersenyum malu-malu. Aku terus meremas tangannya yang juga halus ternyata. Kami terlihat sangat mesra di pelaminan. Dia tak henti-hentinya tersenyum manis. Dia maksudku adalah Suci bukan Bening. Senyum yang membuat jantungku semakin berdebar dan iblis seperti berbisik sebuah kejahatan padaku. Tidak, aku masih tahu diri.
102.7K viewsCompletedAdded to Library 72 Times as puisi elegi
Read
+Library
Elegi

Elegi

Sekali lagi ia mengabaikan eksistensi sepasang Sura, beserta peri pohon, dan juga sesosok Dragon ketika mendapati isi kotak itu adalah lembaran kayu aspen dengan sebuah tulisan yang begitu rapih di permukaannya. Yang fana ialah waktu Yang nyata ialah kau Dan aku hanyalah ketidakpastian yang membelenggu Air ialah diriku dan kau ialah pijar api yang menggelora Kita hanyalah kepulan asap yang tertiup angin lalu tiada Rindu ialah setiap denyut yang menyesakkan dada Ia jatuh di Bumi yang tak semestinya ia tinggali
2.2K viewsOngoingAdded to Library 83 Times as puisi elegi
Read
+Library
PELITA DI TENGAH GELAP

PELITA DI TENGAH GELAP

Dina membetulkan selimutnya, lalu duduk di kursi dekat pelita. Cahaya itu kini memantul di matanya lembut, tenang, dan penuh kehidupan. Di luar, suara hujan kembali turun tapi kali ini tidak terdengar menakutkan. Hujan itu terdengar seperti lagu lagu yang dinyanyikan oleh cinta yang tidak pernah mati. “Pelita bukan hanya tentang cahaya yang terlihat, tapi tentang keyakinan yang tidak pernah padam,
820 viewsCompletedAdded to Library 19 Times as puisi elegi
Read
+Library
ELEGI WANITA KEDUA

ELEGI WANITA KEDUA

Setelah kematian Faiz. Saat itu, semua masih terlihat indah. Membuat hatinya berdebar-debar sejak kematian sang suami. Dirinya merasa seperti gadis remaja yang tengah berbunga-bunga. Siluet itu bagai menari di pelupuk mata. Amelia hanya menahan senyum dan isak tangisnya. Sembari berusaha melupakan kenangan indah itu. Semakin Amelia mencoba untuk melupakan. Bayangan masa lalu itu semakin santer terngiang kembali di telinga dan mata.
1022.7K viewsCompletedAdded to Library 817 Times as puisi elegi
Show Reviews (34)
Read
+Library
pesbuk
Penyampaian ceritanya bagus.... Menurutku sih Romi n Amel jg egois dr awal. Menurut Agama jg menikah antara Keponakan dan Bibi/Paman itu haram, kecuali sang paman blm menggauli istrinya, lhaaa ini kn udah jelas2 ada c Dita, jelas haramnya. Bisa digoogling qo
Chin_ER
Cerita yang sangat bagus. Percintaan yg rumit antara Amel dan Romy, Keteguhan Amel dan Salsa, Kebodohan dan penyesalan Romy serta cinta sejati dari Adrian utk Amel dan Pengorbanan Salsa utk Romy yang luar biasa
Read All Reviews
KEMBALINYA SANG RATU

KEMBALINYA SANG RATU

"Dan puisi tak perlu makna. Cukup keindahan yang merobek dada." Anak-anak Buton berlarian di halaman. Mereka lahir dengan mata biru elektrik dan rambut yang tumbuh menjalar seperti akar. Salah seorang menunjuk langit tempat kapal alien kedua meledak—bunga api dari ledakan itu jatuh sebagai koin emas yang berbisik dalam bahasa Wolio kuno. Mereka tertawa riang, tanpa tahu bahwa keindahan yang mereka saksikan sebenarnya adalah pertanda kehancuran. La Ode Harimau tersenyum pahit, menatap ke langit yang kini dipenuhi asap dan debu. "Puisi kita adalah puisi kematian," bisiknya pelan, sebelum ia menghilang di balik kabut tebal yang menyelimuti istana. Sementara itu, anak-anak Buton terus berlarian,
3.3K viewsOngoingAdded to Library 72 Times as puisi elegi
Read
+Library
DIARY SKIZO

DIARY SKIZO

ELEGI SENJA Perih itu Menembus benteng-benteng kulit ari Hingga lebur pada jangat kulit diri Pedih itu Tak lagi mampu meracun hati Karena pedih terlanjur abadi Tangis ini Bukan lagi mengalir sepi Tapi mendarah memanas hakiki Senja kala itu menjadi saksi Kabar duka mendera Menjadi titik di mana kau tak berbalik Melebur satu bersama ombak Menjadi buih di tengah lautan tanpa tepi Sesal bergulung mengundang hujan
106.1K viewsCompletedAdded to Library 122 Times as puisi elegi
Read
+Library
PREV
1
...
345678
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status