Cinta Sang Preman
Pedasnya mentari menikam jiwa membakar raga menghasut sukma mengenadah di rinai malam, di gaduhnya celoteh camar tolol, menikam nabastara di pekiknya resah di lepas senja yang merona hitam.
Dadaku berdegub kencang di singga-sana perpaduan malam, entah malam atau kita sedia tumpas di silap hening, menikam jiwaku, tertusuk ragaku hanya itu penantian akhir di bekunya tinta yang mendadak beku, singgahi hingga tersimpu terjerembab di kubangan, begitu ponga puan hanya di sisi kiri, kanannya menghilang. Meludah memanis empedu. Oh ... inilah hidup para penikam nikmat.
Hot Chapters