Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Cinta Sang Merpati

Cinta Sang Merpati

Perlahan tapi pasti kenangan tersebut berangsur-angsur retak dan pecah kemudian. Si pejantan kembali pada kesadarannya. Mata kelamnya terbuka dengan jemari yang meremas tanah berumput basah. Kicauan berbagai burung liar saling bersahutan satu sama lain, membuat kepalanya berdenyut sakit. Dia menengadah, rambut putih sebahunya jatuh ke bawah. Terlihat pohon-pohon menjulang tinggi menutup rapat akses sang surya untuk menyinari seluruh bagian bumi.
103.4K viewsOngoingAdded to Library 111 Times as puisi mentari
Read
+Library
Jeritan yang Tak Terdengar

Jeritan yang Tak Terdengar

Sinar bulan menerangi wajahnya, membuatnya terlihat seperti ilusi. Debur ombak yang menghantam pantai terdengar begitu jelas di malam yang sunyi. Hatiku rasanya seperti tertimpa batu besar, sangat menyakitkan. Setelah waktu yang sangat lama berlalu, Ibu membuang ponselnya ke dalam laut. Lalu dia memberiku uang dua puluh ribu, memegang bahuku dan berkata padaku. "Yolanda, tolong belikan Ibu sebotol air, ya?"
8.5K viewsCompletedAdded to Library 340 Times as puisi mentari
Read
+Library
Legenda Tiga Pahlawan

Legenda Tiga Pahlawan

Angin sore bertiup pelan. Suasana damai yang langka. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar nyaman. Dengan mata setengah terpejam, ia menatap awan merah di kejauhan lalu mendadak mendapat inspirasi. Dengan nada puitis ia berkata, “Mentari senja bagaikan darah...” Roger yang sedang rebahan di tikar bawah langsung menyambung santai,
10955 viewsCompletedAdded to Library 30 Times as puisi mentari
Read
+Library
Scylaac. Kembalinya Dunia yang Sempurna.

Scylaac. Kembalinya Dunia yang Sempurna.

Kali ini perhatiannya telah sepenuhnya teralihkan kepada pembicaraan yang ia angkat. "Aku udah nggak punya lagi yang namanya kampung halaman, Mas. Nggak pernah dan nggak akan pernah terhubung lagi dengan kampung halaman, sama aja artinya dengan nggak punya, kan?" "Berarti kamu benar-benar sebatang kara?" Ekspresi hina dan menjijikkan mulai pergi meninggalkan wajahnya. "Namaku Mentari. Pekerjaanku pelacur. Ibuku Mami. Rumahku Pondok Kupu-kupu. Hanya itu identitasku, Mas. Nggak ada yang lain. Nggak ada yang lain."
103.2K viewsOngoingAdded to Library 127 Times as puisi mentari
Read
+Library
Langit & Mega

Langit & Mega

Dia bahkan beberapa kali melirik ke arahku dengan selidik. Ah, sial! Istirahatku bisa kacau. Mentari tidak akan melepaskanku sampai aku memberinya jawaban yang bisa membuatnya puas. Karena itu aku malas berususan dengannya. Apalagi saat ini aku sendiri sedang bingung dengan keadaanku. Bagaimana mungkin aku menjelaskannya sedang aku sendiri tidak mengerti. Tuk! Mentari memberiku kertas putih kecil yang telah di tulis olehnya. Aku menoleh ke arahnya yang dibalas oleh Mentari dengan tatapan seperti menyuruhku untuk segera membukanya.
108.3K viewsOngoingAdded to Library 233 Times as puisi mentari
Read
+Library
Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana

Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana

Kepiawaian Vajra dalam memetik instrumen berdawai itu memang bukan isapan jempol semata. Mendengar iringan yang begitu indah, kepercayaan diri Candrani melonjak. Ia menarik napas dalam, lalu mulai membacakan bait pertama dari puisinya yang berjudul "Cahaya Candra di Balik Mega." Puisi itu berkisah tentang Dewi Bulan yang sinarnya dihalangi oleh kabut tebal kiriman Dewi Kegelapan.
1014.4K viewsCompletedAdded to Library 474 Times as puisi mentari
Read
+Library
SUAMI PENGGANTIKU (BUKAN) PRIA PAYAH

SUAMI PENGGANTIKU (BUKAN) PRIA PAYAH

“Dulu aku hanyalah seorang pengecut dan pecundang, Tari. Aku bahkan takut hanya dengan melihat sinar matahari, padahal namamu adalah Mentari. Sebagai seorang pengecut, rasanya tak mungkin Mas bisa meraih sinar matahari yang begitu gahar. Tapi kehadiranmu yang menyelamatkan Mas waktu itu, terasa memberikan sinar yang teduh dan lembut yang Mas butuhkan selama ini. Karenanya bagi Mas, meskipun namamu Mentari tapi sinar yang kau berikan tidak membuat Mas takut tapi justru seteduh, selembut dan sehangat sinar bulan di malam hari yang membuat Mas begitu nyaman. Karenanya Semenjak itu Mas memutuskan memanggilmu dengan sebutan Luna.” Entah untuk ke berapa kalinya hari ini Samudra bicara panjang leba
9.81.1M viewsCompletedAdded to Library 33.5K Times as puisi mentari
Show Reviews (184)
Read
+Library
Zizizaq
Baca karya orang buat belajar, Dan ini karya yang keren! Baca juga karya Zizizaq. 1. Antara mencintai dan melupakan (tamat 2. Nikah Kontrak berbuah cinta (tamat 3. Wanita ketiga duda kaya (tamat 4. Siksaan dari tunangan kakakku
Osky Agistaragia
mba thor, kenapa koq sekarang ini cuma 1 bab sehari?! Biasanya 2 bab sehari? itupun buat kita2 masih kurang...koq ini malah dikurangi jadi 1 bab.. Tolong di tambah deh mba thor..... Mohon bisa dipertimbangkan usulan n permintaan para pembaca n penggemar mba thor...agar bisa diterima dan terealisasi
Read All Reviews
Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta

Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta

Langit menarik napas panjang, dan dalam keheningan dimensi yang hanya ia yang tahu. “Bintang ini belum padam, wahai para saksi abadi... ia hanya Aku sembunyikan di balik kabut dusta yang tebal.” “Maafkan Aku, Mentari kecil. Aku terpaksa menyegel cahayamu di dalam es yang paling dingin. Engkau ibarat buah yang dipaksa matang sebelum waktunya, sementara di luar sana, Laut yang egois dan Bayangan yang licik, bahkan ular yang melata telah menyiapkan sabit mereka untuk mengupasmu hidup hidup.”
101.2K viewsOngoingAdded to Library 26 Times as puisi mentari
Read
+Library
Kissing Partner Sang Tuan Muda

Kissing Partner Sang Tuan Muda

Sang Mentari mulai naik dari peradabannya, setelah membuat setengah dari bumi gelap tanpa cahaya. Dia menyisingkan sinar yang begitu terang hingga membuat mata silau. Namun anehnya, burung-burung justru menyambutnya dengan kicauan merdu. Bahkan angin pun begitu, dia bergerak sepoi-sepoi menebarkan bau embun yang sangat khas.
5.3K viewsCompletedAdded to Library 148 Times as puisi mentari
Read
+Library
The Time Replayers

The Time Replayers

Mentari menyala di sini Di sini di dalam hatiku Gemuruhnya sampai di sini Di sini, di urat darahku Meskipun tembok yang tinggi mengurungku Berlapis pagar duri sekitarku Tak satupun yang mampu menghalangiku Menyala di dalam hatiku Hari ini hari milikku Juga esok masih terbentang Dan mentari kan tetap menyala Di sini di urat darahku... Lagu yang sama, lagi kemahasiswaan ITB. Puluhan tahun sudah berlalu sejak aku pertama kali mendengarnya. Sampai kini, kesannya selalu membekas. Masih sering kunyanyikan lagu itu ketika kuingat. Sorenya kembali kami pergi ke basecamp untuk mengerjakan tugas hari tersebut. Kelompokku berjalan sambil menyanyikan lagu Mentari.
106.4K viewsCompletedAdded to Library 184 Times as puisi mentari
Read
+Library
PREV
1
...
5678910
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status