Library
Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
TUBUH GIOK PANGERAN TERBUANG

TUBUH GIOK PANGERAN TERBUANG

jawab Xuan Li. Paviliun Gunung Sunyi resmi berdiri. Tak ada upacara megah, tak ada lonceng sekte. Hanya satu bendera kecil yang ditancapkan di pintu masuk gua, bertuliskan satu kalimat: “Yang tak diterima oleh dunia, diterima di sini.”
9.860.3K viewsOngoingAdded to Library 2.2K Times as puisi sunyi
Read
+Library
KESUCIAN GADIS DESA HANCUR DI KOTA

KESUCIAN GADIS DESA HANCUR DI KOTA

“Cepat atau lambat, kamu bakal sadar. Kota ini nggak memberi pilihan lain.” Keesokan harinya, Alya bertemu Aditya lagi. Mereka duduk di bangku taman, dikelilingi pepohonan yang mulai menggugurkan daun. “Kamu kelihatan capek,” kata Aditya sambil menatapnya. Alya tersenyum tipis. “Aku cuma… banyak pikiran.” Aditya diam sejenak, lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya—sebuah buku puisi berjudul Ruang Sunyi. “Aku nemuin ini di toko buku bekas. Kupikir kamu bakal suka.”
101.4K viewsOngoingAdded to Library 50 Times as puisi sunyi
Read
+Library
Istri yang tak Berharga

Istri yang tak Berharga

(POV AISYAH) Entah kenapa hatiku begitu sunyi, bahkan selalu sunyi, hanya detak jam dinding yang terdengar jelas di kamar besar ini. Aku duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah pintu yang baru saja dibanting Fahri. Suara itu masih terngiang di telingaku, meninggalkan getar dalam dada yang sulit ku hentikan.
961 viewsOngoingAdded to Library 24 Times as puisi sunyi
Read
+Library
BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR

BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR

Kalimat yang kutulis ringkas, padat, dan menusuk: Aku adalah puisi yang hanya bisa dibaca, Bukan untuk disentuh jari-jari dunia. Namaku: Harga Diri. Tempatku: Keheningan yang sunyi. Di sinilah aku, tak bertamu, tak menemui. "Ck.. ck.. Aku kira puisi dahsyat apa, ternyata cuma begitu? Biasa saja," cibir Bonaga sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tampak cemas, takut kalau-kalau puisi sesingkat itu akan ditolak mentah-mentah dan membuat kami jadi bahan tertawaan seisi ruangan.
101.2K viewsOngoingAdded to Library 29 Times as puisi sunyi
Read
+Library
Andai Sinar itu Tak Pernah Ada

Andai Sinar itu Tak Pernah Ada

Dia hanya ingat kalau punya seorang putri bernama Riana. Anak yang sangat manis, penurut, tapi takut dingin dan suka sinar matahari. Setiap kali hujan turun, dia akan berteriak ke arah jendela. "Riana, hujan turun, ayo pulang." "Ibu sudah masakin iga asam manis." Sayangnya, tidak akan pernah ada lagi orang yang menjawabnya. Hujan masih turun. Membasuh segala kotoran di dunia ini.
7.9K viewsCompletedAdded to Library 292 Times as puisi sunyi
Read
+Library
Sisa Rasa

Sisa Rasa

Ia nggak nunggu siapa pun, langsung masuk dan naik ke kamar. Begitu pintu kamar tertutup, ia berdiri beberapa detik tanpa bergerak. Sunyi. Selin duduk di tepi ranjang, sepatu masih terpasang. Tangannya bertumpu di kasur, kepalanya menunduk. “Gila,” gumamnya pelan. Ia meraih ponsel dari meja, layar menyala. Jempolnya refleks mengetik satu nama di kolom pencarian kontak.
10832 viewsOngoingAdded to Library 31 Times as puisi sunyi
Read
+Library
Dari Budak Menjadi Bencana

Dari Budak Menjadi Bencana

dan menolak semua emosi dan koneksi sebagai "kotoran duniawi" Penduduk desa memiliki mata yang kosong dan suara yang datar. Mereka telah mengasingkan diri dari keluarga mereka, berhenti bercerita, berhenti bernyanyi. Desa itu sunyi—terlalu sunyi. Ini adalah karya The Silence. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan bujukan halus—meyakinkan mereka bahwa dengan melepaskan makna, mereka akan menemukan kedamaian.
101.4K viewsOngoingAdded to Library 35 Times as puisi sunyi
Read
+Library
Neng Zulfa

Neng Zulfa

sebelum segala suara Engkaulah lengang tempatku berpulang Bunyimu adalah senyapmu Tarianmu adalah gemingmu Pada bisumu, bermuara segala jawaban Dalam hadirmu, keabadian sayup mengecup Saput batinku meluruh Tatapmu sekilas dan sungguh Bersama engkau, aku adalah kepala tanpa rencana Telanjang tanpa kata-kata Cuma kini Tinggal sunyi Dan, waktu perlahan mati ‘Catatan kecil saat langit kelabu di taman bambu’, begitu tulis Dee Lestari di bawah sajak itu dalam tanda kurung. Aku menghela napas kecil. Tepat sebelum jemariku membalik halaman berikutnya, suara Gus Fatih menginterupsi gerakanku. “Zulfa.”
106.7K viewsOngoingAdded to Library 235 Times as puisi sunyi
Read
+Library
KEMBALINYA SANG RATU

KEMBALINYA SANG RATU

Mentari merangkak perlahan dari balik pegunungan yang diselimuti kabut tipis, seperti lukisan tinta di atas kanvas pagi. Di kejauhan, daun-daun cemara Korea menggigil dalam embun, mengguratkan puisi sunyi yang hanya dimengerti oleh jiwa-jiwa yang telah belajar mendengarkan bisikan angin. Di beranda rumah Nyonya Choi yang menghadap ke timur, Lintang duduk bersila, memejamkan mata, meresapi getaran pagi seperti seorang pertapa yang menjahit makna dari setiap napas alam.
3.4K viewsOngoingAdded to Library 135 Times as puisi sunyi
Read
+Library
Suatu Senja di Tanah Senja

Suatu Senja di Tanah Senja

“Setelah memejamkan mata aku mematikan senter. Kegelapan yang pekat dengan cepat menelan sekujur tubuhku dan mengempaskannya ke dalam kehampaan. Suara malam terdengar lebih jernih. Kesunyian terasa begitu lembut. Waktu berhenti dan menjadi bisa di amati. Yang lainnya, semua yang lain berubah menjadi aku. Yang ketiga dalam segitiga. Yang bersatu menafikan cahaya. “Aku merasakan ketenangan yang aneh, berdamai dengan diri sendiri. Sesuatu yang seperti tirai berat terangkat. Semilir angin berembus. Kegelapan retak, melebar, dan berhamburan. Di atasku aku mendapati ketinggian sejati. Aku mencoba mencapainya. Tapi aku tak cukup kuat mendaki. Kakiku terkilir dan aku jatuh berguling-guling.
105.3K viewsOngoingAdded to Library 106 Times as puisi sunyi
Read
+Library
PREV
123456
...
10
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status