Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Warung Kopi Dunia Bawah

Warung Kopi Dunia Bawah

komentarnya. Karina hanya terkekeh. “Selamat datang di zaman absurd.” --- Suatu malam, Parto menyerahkan selembar puisi pada Dimas. > "Kopi tak berubah rasa, hanya cangkirnya yang berganti. Tapi rasa... tetap ingin pulang." --- WarKoDuBa malam itu penuh tawa, senyum, dan kehangatan yang tidak bisa dibeli. Parto mengangkat cangkirnya.
101.2K viewsOngoingAdded to Library 42 Times as puisi ping pong
Read
+Library
Sang Kupu-Kupu Malam

Sang Kupu-Kupu Malam

“Kita sudah terlalu dalam untuk mundur.” Kata-kata itu terasa seperti beban yang semakin berat. Mereka berjalan lebih lama tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sampai akhirnya mereka sampai di sebuah bar kecil yang terletak di sudut jalan. Tempat itu tampak sepi, dengan hanya beberapa orang yang duduk di meja. Lampu yang remang-remang menciptakan atmosfer yang gelap dan nyaman, seolah-olah dunia luar tidak pernah ada.
831 viewsOngoingAdded to Library 16 Times as puisi ping pong
Read
+Library
Hasrat Panas Paman Dingin

Hasrat Panas Paman Dingin

Rasanya sangat aneh, pahit sekaligus terasa begitu panas saat menyentuh tenggorokannya. Rian berjalan mendekat, bersimpuh di hadapan Anin lalu berujar, "Anin, udah. Kamu nggak kuat minum. Simpan aja, Viona juga keliatannya udah mabuk." Tangan Anin yang memegang gelas keduanya mengambang di udara. Ia menoleh pada Viona yang nampak pipinya sudah memerah. "Tapi ...."
102.2K viewsOngoingAdded to Library 65 Times as puisi ping pong
Read
+Library
Kultivasi Awan Surga

Kultivasi Awan Surga

Ekspresi makhluk itu mencerminkan kelelahannya. Jelas, serangan yang mengguncang bumi itu telah menguras sebagian besar tenaga kera itu. Meskipun kelelahan, mata Pongo berbinar penuh kemenangan. Ia memukul dadanya dengan tinjunya, meraung penuh kemenangan hingga ke langit, dan melangkah pergi dengan angkuh. Xi Feng sepenuhnya mengerti mengapa Pongo merasa puas diri.
9.2116.4K viewsCompletedAdded to Library 2.6K Times as puisi ping pong
Read
+Library
Pendekar Kera Sakti

Pendekar Kera Sakti

Baraka terpesona sesaat memandang kecantikan yang alami dan berkesan lugu itu. "Kau tak akan unggul melawanku, Pinang Sari!" gertak Ayunda sambil kembali lepaskan pukulan jarak jauhnya tanpa sinar. Pinang Sari melompat ke atas dalam satu sentakan kaki dan dari sana ia melepaskan pukulan bersinar hijau dari ujung jari tangannya.
1028.3K viewsOngoingAdded to Library 651 Times as puisi ping pong
Read
+Library
Di Kehidupan Kedua, Nona Shu Yi Akan Menuntut Balas!

Di Kehidupan Kedua, Nona Shu Yi Akan Menuntut Balas!

Mereka berciuman panas di bawah sinar rembulan. Sontak mukanya memanas. Hanya bisa mengutuki pikirannya yang makin lama makin tak terpuji, seperti Tang Rui. Penyakit memang menular! Tangannya menulis puisi beberapa baris lalu menyerahkannya pada panitia. Setelah beberapa saat, lomba menulis puisi akhirnya ditutup. Menunggu panitia berdiskusi, para pengunjung dipersilakan santap siang.
1022.4K viewsOngoingAdded to Library 739 Times as puisi ping pong
Read
+Library
Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup

Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup

"Hobi membuat bangunan? Seorang Arif Budiman yang kukenal melalui profil keluarga tidak pernah sekalipun menyentuh palu." ​Ucup tertawa canggung, tawa yang terdengar sangat dipaksakan di telinga siapapun yang mendengarnya. "Ah, lupakan saja hal sepele itu. Lagipula, apa hubungannya tangan kasar dengan malam kita? Bisakah kita lanjutkan saja?"
103.3K viewsOngoingAdded to Library 99 Times as puisi ping pong
Read
+Library
Andai Sinar itu Tak Pernah Ada

Andai Sinar itu Tak Pernah Ada

Di bawah sinar rembulan, aku melihat wajahnya pucat pasi, dahinya penuh keringat dingin. Dia sedang menahan sakit, sama sepertiku. Kami bermain tiga babak. Tidak ada yang bicara, hanya ada suara ketukan bidak catur yang nyaring. Dia bermain dengan ganas, seolah sedang meluapkan sesuatu. Aku bermain dengan tenang dan sangat waspada. "Kamu takut kalah?" tanya Tonny tiba-tiba. "Aku nggak boleh kalah." Aku meletakkan satu bidak.
7.3K viewsCompletedAdded to Library 182 Times as puisi ping pong
Read
+Library
TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)

TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)

5 bulan sebelumnya, Brakk Pintu terhempas keras. Engsel pintu yang mengkilap karena sering diurapi minyak bahkan hampir terlepas. Baron Jonas yang tengah sibuk melihat dokumen mengerutkan kening, hampir memuntahkan sumpah serapah namun urang dia lakukan saat mendapati Shilla putri kesayangannya hampir menubruknya dengan nafas memburu.
489 viewsOngoingAdded to Library 10 Times as puisi ping pong
Read
+Library
PELITA DI TENGAH GELAP

PELITA DI TENGAH GELAP

Ia meraih Dinda, memeluknya erat. “Puisi kamu indah banget sayang.” Dinda tersenyum “Itu buat Bunda dan Ayah.” “Bunda yakin Ayah denger,” jawab Dina lembut, “karena cahaya nggak butuh suara untuk sampai ke langit.” Sore itu, Dina menyalakan pelita di ruang tamu. Cahaya kecilnya memantul di dinding, menari lembut bersama bayangan daun di luar jendela ia menatapnya lama, lalu mengambil buku hariannya dan menulis satu halaman terakhir,
689 viewsCompletedAdded to Library 13 Times as puisi ping pong
Read
+Library
PREV
1
...
456789
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status