Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Kembalilah Padaku

Kembalilah Padaku

Aku menghela nafas dan pergi menyusulnya. Kami sedang berada di Tangerang Selatan dan tampaknya itu adalah malam yang ramai. Ada banyak mobil yang melewati jalan, anak-anak bermain di plaza di dekat sana, orang-orang berlalu lalang, orang-orang berjalan dengan hewan peliharaannya, beberapa gelandangan dan pecandu berbaring di pinggir jalan, dan tepat di pintu masuk gedung itu, sekumpulan anak-anak muda berpenampilan buruk sedang mendengarkan lagu R&B melalui pengeras suara sambil merokok sesuatu yang dilarang. Mereka menatap aku dan Fia dengan raut wajah yang menakutkan, menyadari bahwa kami bukan dari daerah itu. Aku melingkarkan tanganku dengan protektif ke pundak Fia dan berjalan denganny
9.286.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.0K kali sebagai puisi tentang kota tangerang
Baca
+Pustaka
Rumah Tengah Hutan

Rumah Tengah Hutan

Terlalu mahal harga yang harus aku bayar, jika harus melupakan hari ini. “Kamu hebat juga, ya, kalau bikin puisi.” Pujinya, mungkin kepadaku. “Haa? Hebat?” “Iya, puisinya menyentuh sekali.” “Ah, biasa saja.” Siang itu, terasa siang terdingin di kota Surabaya. Alasannya kalian sudah mengerti, bahkan paham tanpa perlu aku menjelaskan ulang. Senyum, adalah pengganti pelangi barang kali. Anehnya, pelangi yang seindah itu, tidak mau menampakkan diri sepanjang masa, merasa masih ada kekurangan untuknya.
8.99.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 346 kali sebagai puisi tentang kota tangerang
Baca
+Pustaka
ISTRIMU TERNYATA SULTAN

ISTRIMU TERNYATA SULTAN

Berlin menempelkan keningnya ke kening Rangga. "Sedangkan lo? Lo itu kayak Nasi Goreng Tek-Tek ini. Anget. Berantakan. Berminyak dikit. Tapi bikin kenyang dan bikin nagih." Rangga menatap mata Berlin. "Jadi kamu lebih milih Nasi Goreng daripada Lukisan?" "Selalu," jawab Berlin mantap. "Lagian, puisi lo tadi sebenernya kreatif lho. 'Dividen cinta cair tiap hari'? Itu quote ter-gombal yang pernah gue denger."
10835 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 28 kali sebagai puisi tentang kota tangerang
Baca
+Pustaka
Titipan Cinta Bentara

Titipan Cinta Bentara

Jalan Penuh Puisi Aku serupa melihat silet lelaki yang kukenali sejak lama Ketika itu aku berjalan di tenah rerimbunan pohon berdaun larik-larik puisi Dengan tangkai yang meranggas serupa sajak-saja pekat Langkahku maju meski ragu-ragu Menginjak serakan bait-bait coretan pujangga Siluet itu kini berubah menjadi seorang lelaki seutuhnya Wajahnya serupa rumah yang tak pernah kujumpa Wangi yang menguar dari tubuhnya terlalu sering kuhirup namun tak pernah tercium oleh hidungku Dadanya serupa tempatku berkeluh kesah namun tak pernah Namun tak pernah kusentuh Lelaki itu berjalan ke arahku, di jalan yang penuh dengan puisi.
3.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 117 kali sebagai puisi tentang kota tangerang
Baca
+Pustaka
Jejak Pedang di Langit

Jejak Pedang di Langit

Liang Feng tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sepenuhnya mencapai matanya. Mereka tiba di sebuah kota kecil yang dikenal sebagai Kota Hujan Tak Berhenti. Sesuai namanya, kota itu selalu diselimuti hujan ringan yang tidak pernah berhenti. Jalan-jalan berbatu basah, dan penduduknya berjalan dengan langkah cepat di bawah payung mereka. Liang Feng merasa ada sesuatu yang aneh di kota ini. Meskipun suasananya tampak damai, ia merasakan tekanan energi yang aneh, seperti bayangan gelap yang bersembunyi di balik hujan.
1.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 40 kali sebagai puisi tentang kota tangerang
Baca
+Pustaka
Rahim untuk Anakku

Rahim untuk Anakku

Terasa singkat saat bersamamu teramat panjang kala merindumu berasa sesaat ketika menggenggammu sangatlah lama untuk menantimu ****** Tawa dan canda sepanjang perjalanan membuat semua lelah tak lagi terasa. Kadang bernyanyi bersama walau dengan suara yang tidak jelas nadanya. Yang penting happy. Sepanjang perjalanan harus melintasi perkebunan teh yang mampu menyejukkan mata dan pikiran. Beda sekali dengan penatnya kota Jakarta. Di sini masih sangat asri.
106.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 154 kali sebagai puisi tentang kota tangerang
Baca
+Pustaka
Dalam Cengkeraman Empat Sultan

Dalam Cengkeraman Empat Sultan

Dia ingin agar Emma menatapnya karena gadis itu sudah merusak tatanan kehidupannya sejak dia menginjakkan kaki di kampus ini. "Buruan baca," teriak Arsen tidak sabar. Cowok itu benar-benar sudah penasaran dengan puisi yang ditulis Raka kali ini. Raka menatap kertas di tangannya dan mulai membaca. “Ada kota-kota yang tetap ramai meski kehilangan satu lampu di sudut jalannya mungkin memang begitu cara dunia bekerja Sesuatu bisa hilang tanpa benar-benar mengubah apa pun
103.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 94 kali sebagai puisi tentang kota tangerang
Baca
+Pustaka
Suamiku Bukan yang Kukira

Suamiku Bukan yang Kukira

Pelabuhan belum ramai, tapi suara kapal kecil dan teriakan buruh mulai naik seperti doa yang setengah putus. Kota ini tidak tidur; ia hanya berpura-pura. Aku berjalan menyusuri jalan menuju pelabuhan tua. Dindingnya penuh grafiti. Di salah satunya, sebuah kalimat tertulis dengan cat hitam, hurufnya besar tapi tergesa: “Magnolia bukan bunga, ia akar.” Aku berhenti. Cat itu masih basah. Seseorang baru menulisnya. Kuberanikan menyentuh sedikit ujungnya. Tinta menempel di jari.
717 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 20 kali sebagai puisi tentang kota tangerang
Baca
+Pustaka
Ternyata Mencintai Anak Pemilik Mal

Ternyata Mencintai Anak Pemilik Mal

Dia berharap ini adalah sebuah petunjuk yang tepat. "Ini, ada di Jakarta Utara, Jakarta Timur, dan juga Jakarta Selatan mendekati Tangerang." Baharudin mulai memaparkan temuannya lebih detail. Leon tidak melewatkan satu kata pun dari yang Baharudin sampaikan. Kemudian dia ganti menunjukkan pesan tentang seseorang yang tahu di mana Mentari. Dengan cepat Baharudin minta nomor pengirim pesan dan mencoba melacak di mana lokasinya.
108.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 234 kali sebagai puisi tentang kota tangerang
Baca
+Pustaka
Samaran Terakhir

Samaran Terakhir

📚 MASUK KE DALAM NARASI YANG SEDANG DITULIS Kau muncul di tengah kota. Jalanan bergetar seperti suara mesin tik tua. Lampu-lampu jalan berkedip dalam pola Morse yang membentuk kata-kata. Angin berhembus, membawa kalimat setengah jadi. Lalu, sebuah papan iklan di sebelahmu berubah: 📢 "WELCOME TO THE CITY OF UNWRITTEN STORIES." 📢 "Semua kemungkinan ada di sini. Semua nasib tertunda."
1.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 60 kali sebagai puisi tentang kota tangerang
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status