Setelah Kamu Pilih Dia
Ia hanya duduk di lantai, di samping kursi Dinda, menyandarkan kepala ke pangkuannya.
“Aku… bingung,” bisik Dinda akhirnya.
Rayhan menoleh, menunggu.
“Aku takut kehilangan rasa ini. Rasa damai. Rasa tenang. Takut nanti kalau terlalu nyaman, semua ini bisa lenyap tiba-tiba.”
Rayhan menggenggam jemari Dinda, hangat. “Kalau nanti perasaan itu berubah, nggak apa-apa. Yang penting sekarang kamu tahu, kamu pernah sampai di titik ini. Dan itu cukup.”