Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Antara Peran dan Perasaan

Antara Peran dan Perasaan

--- Judul: Rumah Tanpa Alarm Rumahku tidak punya alarm, Tapi aku tahu kapan orang dewasa sedang takut. Suara pintu yang ditutup terlalu pelan. Napas panjang sebelum jawab pertanyaan. Pelukan yang lama tapi tidak bicara. Dulu aku pikir rumah adalah bangunan. Sekarang aku tahu rumah itu perasaan. Dan kadang rumahku pindah-pindah: Dari pelukan Mama, ke genggaman Papa, ke senyum yang tidak diucapkan.
101.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 59 kali sebagai puisi tentang rumahku
Baca
+Pustaka
Diantar Ke Rumahku

Diantar Ke Rumahku

Biar rumah ini selalu sejuk, tanpa harus menggunakan AC. Dan rumah ini memang akhirnya menjadi sejuk. Di seluruh halaman, Mama menanam pepohonan buah, bunga-bunga, dan beberapa pohon Kemuning, yang berbunga harum tapi juga membuat orang kampung merasa takut, ketika aromanya terbawa angin malam.
107.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 164 kali sebagai puisi tentang rumahku
Baca
+Pustaka
Ya, Sayang?

Ya, Sayang?

"Rumah kamu yang mana?" ["Rumah saya yang berpagar putih banyak tanaman merambat. Cari saja rumah yang paling banyak tanaman di depan rumahnya. Nomor dua ratus empat. Itu rumah saya, pintu rumah saya terbuka lebar, ada jemuran selimut bermotif bunga warna-warni dan saya sedang duduk di kursi teras depan rumah. Rumah saya yang paling kecil di antara rumah yang lainnya."]
11.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 263 kali sebagai puisi tentang rumahku
Baca
+Pustaka
Kuretas Hidup Suamiku Dan Simpanannya

Kuretas Hidup Suamiku Dan Simpanannya

Pov Banyu Kami tiba di rumah Bapak, rumah yang mungkin akan membawa kenangan Dinaku kembali, rumah yang di dalamnya berlimpah cinta dan kasih sayang. Sungguh sampai saat ini aku masih merasa beruntung, ya, beruntung karena jadi bagian di dalamnya.
9.5330.4K DibacaTertahanDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 7.9K kali sebagai puisi tentang rumahku
Baca
+Pustaka
Miss Montok

Miss Montok

Aku mengiyakan salah seorang di antaranya. Pukul 11.45 sampai juga aku di rumah. Rumah besar bercat putih dengan pintu dan jendela dari kayu bercat coklat gelap, itulah rumahku. Satu pohon pepaya menjulang tinggi di kebun kecil yang ada di depan rumah. Kumasukkan kunci ke gembok yang terpasang di pagar yang berwarna abu-abu tua. Sesudah membuka pintu pagar dan menutupnya lagi, aku menarik napas panjang. Suasana sepi sekali. Sepertinya Papa dan Mama sudah tidur. Lagi-lagi aku menarik napas panjang. Kali ini dengan lega. Setidaknya aku bisa menenangkan diri dulu malam ini.
1014.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 533 kali sebagai puisi tentang rumahku
Baca
+Pustaka
Dendam Kaisar Surgawi

Dendam Kaisar Surgawi

Seolah ada sesuatu yang tersampaikan, meski hanya kepada bayangan di air. Aku kembali ke rumah sederhana tempatku tinggal. Rumah ini… ya, mungkin lebih tepat disebut gubuk. Bangunan kayu reyot dengan atap bocor dan lantai yang berdebu. Tidak ada satu pun tanda kemewahan atau kenyamanan di sini, tapi toh ini satu-satunya tempat yang aku punya sekarang.
1.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 42 kali sebagai puisi tentang rumahku
Baca
+Pustaka
Mahligai Abu dan Berlian

Mahligai Abu dan Berlian

Dan kemudian, kalimat penutupnya, yang membuat semua orang terhenyak: “Dan ingat ini baik-baik: mahligai abu telah runtuh. Tapi dari puing-puingnya, kalian membangun sesuatu yang lebih kuat: sebuah rumah.” Kalimat terakhir itu menggema di ruangan yang sunyi, memenuhi setiap sudut, setiap celah, seperti wewangian Ratma yang masih melekat di tirai jendela. Mereka saling memandang, dan dalam pandangan itu, mereka menyadari bahwa Ratma bukan hanya meninggalkan kenangan.
2.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 63 kali sebagai puisi tentang rumahku
Baca
+Pustaka
Jadilah Pedangku, Sayang!

Jadilah Pedangku, Sayang!

Apa kau tidur di rumah orang? Atau malah terlelap di bawah pohon pisang? Setiap kau berada di luar Aku selalu memanjatkan doa Ya Allah suruh Cicimochi pulang Aku ingin dia pulang Hatiku tak tenang tiap Dia berkeliaran entah ke mana * * *
102.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 77 kali sebagai puisi tentang rumahku
Baca
+Pustaka
Pernikahan Penuh Luka

Pernikahan Penuh Luka

tanyaku. “Aku nggak yakin kamu bakal mau ketemu.” “Kamu bisa telepon.” “Kamu sekarang selalu sibuk. Selalu bilang lagi di rumah.” Aku terdiam. Rumah. “Iya,” kataku pelan. “Karena itu tempat yang harus aku jaga.” Matanya kembali berair. “Aku juga pernah jadi rumah kamu.” Aku menutup mata sebentar. “Dan aku salah membangun rumah di atas luka.”
102.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 66 kali sebagai puisi tentang rumahku
Baca
+Pustaka
Mantan Suami Ingin Cintaku Kembali

Mantan Suami Ingin Cintaku Kembali

Aku menyerah. Dua kata yang membuat tekadku kuat meninggalkan semuanya, termasuk rumah dan juga kota yang melahirkan aku. Napasku tercekat. Aku menatap sekeliling rumah. Dulu, rumah ini lah yang selalu menjadi tempat pulangku. Sekarang, aku harus meninggalkannya.
1025.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 835 kali sebagai puisi tentang rumahku
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status