BELENGGU DENDAM SUAMI KEJAM
Rumi mengusap bahu Kei, menguatkan perempuan itu agar tak terlalu bersedih, “Kamu tidak bodoh, Kei. Karena tidak ada yang pernah tahu hati akan berlabuh pada hati siapa.”
Kei tersenyum, ia menghambur memeluk Rumi, “Terima kasih, Rumi. Setidaknya masih ada kamu yang perduki padaku.”
“Hei, jangan mengucapkan terima kasih. Kita kakak adik bukan? Kita saudara, dan dalam persaudaraan, tidak ada hutang budi.”
Kei terkekeh, menghapus air matanya dengan punggung tangan, “Aku beruntung memiliki adik sepertimu.”
Bab Populer