Transmigrasi: Tebusan dalam Diri Radit
Bangun pukul 4 pagi, push-up ratusan kali, berenang di sungai deras, mendaki bukit dengan beban di punggung, hingga latihan strategi melawan simulasi musuh.
Radit sering jatuh pingsan, bahkan pernah hampir tenggelam. Namun setiap kali hampir menyerah, wajah Arka kembali muncul di benaknya. “Ayah jangan pergi lama-lama.” Kalimat polos itu menjadi mantra.
Bagas yang masih membencinya sering menjatuhkan komentar sinis. “Hei, pemerkosa, kalau kau mati di sini, jangan salahkan kami ya. Setidaknya dunia bersih dari sampah sepertimu.”
Hot Chapters