DIMADU TANPA RESTU
Ia mengenakan jilbab instan sederhana namun tetap rapi, dan senyum itu—senyum yang pernah menjadi milik Wira sepenuhnya—kembali muncul di wajahnya.
"Selamat datang, Mas Wira," ucapnya, lembut namun menjaga jarak.
"Assalamualaikum," sahut Wira dengan senyum kecil. Ia mengangkat beberapa kantong hadiah. "Bawaan dari Surabaya. Buat kamu, Raka, dan yang lainnya."
"Waalaikumussalam. Kamu nggak perlu repot-repot, Mas. Tapi... terima kasih," jawab Sekar sambil memberi isyarat mempersilakan masuk.
Hot Chapters