Jelajah Jelita
“Paham sih, Na. Tapi namanya…”
“Namanya cinta? Namanya sayang? Kalau cinta atau sayang, ya diperjuangkan. Ta, inget ya, ini baru tahap awal hubungan kalian. Belum ada apa-apanya dibandingkan masalah yang mungkin muncul ke depannya. Apalagi kalau kalian ada rencana menikah.” Arina memotong dengan sedikit emosi sembari memainkan ponselnya. Mendengar itu, Jelita tampak sedikit gusar, karena jauh di relung hatinya ia mengakui perkataan sahabatnya itu benar adanya. Dipandanginya Arina yang duduk di seberangnya itu dalam-dalam sambil menghela nafas panjang. Kantin kampus pagi itu masih agak sepi, namun rasanya nyawa dan semangat Jelita sudah melayang terbang entah kemana. Jelita melirik jam tangan
Hot Chapters