Sentuh Aku Lagi, Sayang!
Ia ingin dilupakan sejenak dari dunia yang terlalu ramai, menjadi hanya ada di sini, di dalam pelukan pria yang telah memilihnya di antara sekian banyak badai.
Gerakan mereka menjadi irama yang saling mengenali. Bukan lagi pencarian, tapi perayaan. Rendra menelusuri setiap lekuk tubuh Dara dengan bibir dan jemari, membaca ulang puisi yang dulu pernah ia hafal, memastikan tidak ada bait yang lupa. Dara merespons dengan desahan yang keluar dari relung terdalam, dengan genggaman jari di punggung Rendra yang meninggalkan jejak merah tipis—tanda bahwa ia nyata, bahwa ini bukan mimpi.