Library
Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Kembalinya Kesatria Pedang Giok Hitam

Kembalinya Kesatria Pedang Giok Hitam

tanya adik dari ibu Sherlyn. "Kalau itu yang terbaik, ayolah." Merekapun segera masuk ke sebuah mobil berukuran panjang, berwarna hitam. Elang hanya diam saja, cuma senyam-senyum, tak tahu harus bagaimana. walaupun bahasa mereka Elang pahami dengan mudah. Sampailah kini pada rumah Paman Ho. Rumah yang besar. Dengan arsitektur lama yang nampak masih kokoh.
102.9K viewsOngoingAdded to Library 101 Times as rumah eyang
Read
+Library
Kita Beli Kesombongan Mertuamu, Nduk!

Kita Beli Kesombongan Mertuamu, Nduk!

Kemudian, mobil meluncur membelah jalan kota pelajar tersebut. Sesampai di sebuah rumah yang ber-desain etnik jawa kental, kami disambut oleh seorang pria yang menggunakan blangkon di kepalanya. Dia adalah penjaga rumah eyang. Lelaki itu sudah ikut Eyang sejak aku masih kecil.
10144.5K viewsCompletedAdded to Library 5.1K Times as rumah eyang
Read
+Library
Holiday to Wedding Day

Holiday to Wedding Day

"Gimana, Hill? Kalau kamu setuju, besok biar Budhe siapkan kamar buat kamu. Terus, kami bantu pindahan juga. Kita hanya bertiga lho Hill di sana, jangan khawatir! Gimana?" "He'em, Nduk." terlihat jelas, Eyang berusaha untuk menyakinkan hatiku. "Di sana kan rumahnya luas, nggak sempit kayak di kos. Terus pemandangannya juga masih asri, indah. Nggak banyak polusi."
107.2K viewsCompletedAdded to Library 194 Times as rumah eyang
Read
+Library
TETANGGA SEBELAH RUMAH

TETANGGA SEBELAH RUMAH

tanyanya lagi, bawel. "Makasih udah nolongin, saya mau pulang. Tuh, rumah saya." jawabku sambil menunjuk rumah bercat oren, dan masih pura-pura memegang lutut, yang sebenarnya nggak sakit. cuma cari perhatian aja, biar si 'suami idaman' ngerespon. Tapi nyatanya dia diem aja. Huh, kesel!
3.8K viewsOngoingAdded to Library 107 Times as rumah eyang
Read
+Library
Ulat Bulu Penghancur Rumah Tanggaku

Ulat Bulu Penghancur Rumah Tanggaku

Satu kata yang langsung berada di dalam benak Elen, ia kembali mengembuskan napasnya sebelum kedua kaki itu bergerak sesuai arahan dari sang suami. "Kamar nomor 15." Elen menghitung nomor-nomor kamar yang saat ini tengah ia lewati. "11, 12, 13, 14, 15." Tepat saat kedua mata dan mulut sinkron menyebut nomor 15, kaki milik Elen langsung berhenti. Di depannya saat ini, kamar pasien dengan nomor 15, sesuai dengan petunjuk dari sang suami. Namun, di luar ruangan tersebut tidak ada satu orang pun.
101.4K viewsOngoingAdded to Library 44 Times as rumah eyang
Read
+Library
Ku Temukan Rumahku

Ku Temukan Rumahku

Bi Sarmi tersenyum "Non.. saya selalu berada di rumah ini, jadi saya tinggal disini selama ini. Kebetulan ada Non, dan tuan serta teman-teman pembantu di rumah ini, jadi saya tidak hidup sendiri Non" "Sepertinya Bibi yang paling lama disini ya" "Benar non.. sebelumnya bahkan hanya saya dan satu orang pembantu ketika Nyonya masih hidup. Tapi setelah kematian Nyonya, Tuan menambah beberapa pembantu lagi, dan supir" "Benar.. rumah ini memang menambah pembantu lagi semenjak Ibu meninggal. Tapi seakan rumah ini sudah tidak terlalu hidup semenjak Ibu meninggal, walaupun faktanya memiliki beberapa penghuni baru"
3.1K viewsOngoingAdded to Library 68 Times as rumah eyang
Read
+Library
Rumah Ramaria

Rumah Ramaria

Dan kupikir Tuhan mengabulkan itu. Terima kasih Ayah. Ingatanku di masa lalu, duduk dengan Ayah di ruang keluarga di suatu sore, kembali lagi. Aku ingat waktu itu aku masih berumur 10 tahun. Kami sedang membicarakan celengan ayam dari tanah liat milikku yang isinya sudah penuh dan ingin kupecahkan. Ayah bertanya apa yang mau kulakukan dengan uang-uang itu. Aku menjawab dengan santai bahwa uang-uang ini akan kubelikan es krim supaya di dalam freezer lemari es kami tidak hanya ada es batu. Ayah mengelus rambutku dan tersenyum waktu itu, aku ingat sekali. Lalu ia bercerita bagaimana dulu ketika Ayah masih kecil, masih seumuranku, Eyang Kakung – Ayahnya Ayah – bercerita bahwa ia membeli rumah ya
104.5K viewsOngoingAdded to Library 94 Times as rumah eyang
Read
+Library
Pembantu Rasa Nyonya

Pembantu Rasa Nyonya

Di rumah tinggal Ibu yang ditemani sepupu. Beliau ditemani banyak saudara. Hampir seluruh kampung, masih ada hubungan kerabat dengan kami, sampai-sampai Wisnu menyebutnya 'kampung sejuta eyang', karena semua orang tua dipanggilnya eyang. Ada-ada saja! Ibu menyambut dengan senang ketika tadi malam menelponnya. Aku memberitahu bahwa kami besuk akan datang dan apa keperluannya.
9.81.3M viewsCompletedAdded to Library 41.4K Times as rumah eyang
Show Reviews (144)
Read
+Library
Penghujung Cerita
Rani tidak sadar bahwa dari dulu mas Suma xpernah suka wanita dan wanita pertamanya adalah Rani kalu Suma curang knpa dari dulu tidak buat knpa baru skrng pdhl dia duda udah lama menurutku paling hebat itu Dewi ngk ada wanita lain..
Astika Buana
Terima kasih sudah membaca cerita ini. Ikuti cerita lainnya dengan ketik di kolom pencarian: astika buana. . Terima kasih. Sayangi diri kalian dengan selalu bahagia, apapun keadaannya. . LOVE astika Buana
Read All Reviews
ISTRI KEDUA AYAHKU

ISTRI KEDUA AYAHKU

Eyang membunuh Eyang kakung? Dalam ingatan yang samar, wajah Eyang kakung menjelma di pelupuk mata. Wajah tampan dengan mata dan senyum yang teduh. Dua puluh tahun yang lalu, usiaku lima tahun kala itu. Pagi sepulang dari sekolah taman kanak-kanak, rumah telah ramai. Ada bendera kuning di sana, dan tubuh Eyang kakung terbaring kaku ditutupi kain batik bermotif parang kesukaannya. Di sisi kepala, Ayah duduk sambil membenamkan kepala dalam dalam. Disebelahnya ada Bunda yang mengaji dengan suara parau. Dan juga ada Eyang putri dan Mama di sisi lain, menangis dan meratap ratap. Saat itu aku heran kenapa semua orang bersedih, kenapa rumah begitu ramai, dan kenapa Amira dan juga Huda duduk diam ti
1021.5K viewsCompletedAdded to Library 796 Times as rumah eyang
Read
+Library
Red in Us

Red in Us

Namun, Katha tak mau mengakui itu di depan Rabu. “Sama-sama,” ucap Katha akhirnya setelah balas menyikut lengan Rabu. “Rumah eyangnya Mbak bagus banget lagi,” komentar Bening. Dia mengamati dinding rumah yang dicat seperti kayu. Eyang Mar—ibu dari mama Katha—memang ingin menghidupkan suasana rumah khas Jawa. Akan tetapi karena ingin menjaga kekukuhannya, dinding tetap dibuat dengan batu bata dan semen, lalu dicat dengan motif kayu. Akan tetapi, bila dilihat dari luar, penampilannya terlihat sama seperti rumah-rumah khas Jawa. Oleh karena itu, para pelanggan eyang Katha, suka sekali berkeliling di sekitar rumah ketika membeli tembikar. Mereka bilang
1018.4K viewsCompletedAdded to Library 644 Times as rumah eyang
Read
+Library
PREV
123456
...
10
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status