AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU
Rumah itu terasa begitu mati.
Mara melangkah pelan, mengarahkan kakinya menuju dapur. Di sana, sebuah meja makan kayu berukuran kecil untuk dua orang masih tertata rapi. Tangannya yang sedikit gemetar terulur, mengambil sebuah gelas kosong di samping cangkir milik mendiang suaminya yang sengaja tidak pernah ia pindahkan. Setelah menyeduh teh hangat, Mara memutar sendok di dalam gelasnya secara perlahan, menciptakan lentingan berdenting yang menggema di dalam ruangan yang sunyi. Ia kemudian menenteng gelas itu menuju teras belakang.