MAWAR
Kakinya bergerak melangkah mendekati Mawar, langkahnya terhenti dikala matanya mengedar tampak menilai ruangan yang menjadi kamar Mawar.
Tidak ada lampu, cahaya satu-satunya berasal dari pintu saja, dia pastikan jika pintunya di tutup, maka ruangan ini akan terasa sangat pengap dan gelap. Ruangan ini jelas tidak pantas disebut kamar, lebih tepatnya mirip seperti penjara, bahkan penjara saja lebih bagus dari ruangan ini.
Dito berdiri menjulang, kontras sekali dengan tubuh Mawar yang kecil dan kurus. Dia mengelus rambut Mawar sayang dan langsung mendapat tepisan kasar dari wanita itu.